JurnalLugas.Com — Perkembangan teknologi perbankan memang memudahkan masyarakat dalam bertransaksi. Kini, tarik tunai tanpa kartu ATM menjadi fitur yang banyak digunakan karena dinilai praktis dan cepat.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran baru di tengah masyarakat: apakah ATM bisa dibobol tanpa kartu fisik?
Pertanyaan itu semakin ramai diperbincangkan setelah maraknya kasus penipuan digital, pencurian data perbankan, hingga pembobolan rekening melalui ponsel.
Tidak sedikit nasabah mulai khawatir karena merasa uang di rekening bisa hilang meski kartu ATM masih berada di tangan mereka.
Pengamat keamanan digital, Dimas Kurniawan, mengatakan pembobolan ATM tanpa kartu memang memungkinkan terjadi, tetapi bukan berarti mesin ATM dapat dibuka begitu saja oleh pelaku.
“Yang sebenarnya terjadi biasanya adalah pencurian akses akun atau data nasabah. Jadi bukan mesin ATM-nya yang diretas secara langsung,” ujarnya, Minggu 24 Mei 2026.
Tarik Tunai Tanpa Kartu Memakai Sistem Kode Digital
Saat ini hampir seluruh bank besar di Indonesia menyediakan fitur tarik tunai tanpa kartu melalui aplikasi mobile banking. Sistem ini bekerja menggunakan kode transaksi atau QR tertentu yang dikirim langsung ke aplikasi nasabah.
Kode tersebut bersifat sementara dan hanya berlaku dalam waktu singkat. Karena itu, transaksi tanpa kartu sebenarnya tetap memiliki lapisan keamanan tambahan seperti PIN, OTP, hingga verifikasi biometrik.
Namun risiko tetap ada apabila data pengguna berhasil dicuri oleh pelaku kejahatan siber.
Modus Pembobolan Rekening Kini Berubah
Jika dulu pembobolan ATM identik dengan skimming atau pencurian data kartu melalui alat tertentu di mesin ATM, kini modus kejahatan berkembang ke arah digital.
Pelaku biasanya memanfaatkan:
- Link palsu atau phishing
- Aplikasi berbahaya
- Pencurian kode OTP
- Social engineering atau manipulasi korban
- Pengambilalihan akun mobile banking
Dalam banyak kasus, korban tanpa sadar memberikan akses akun kepada pelaku melalui tautan palsu yang menyerupai situs resmi bank.
Praktisi keamanan siber, Rendy Saputra, menyebut sebagian besar kasus pembobolan rekening saat ini justru berasal dari kelalaian pengguna sendiri.
“Pelaku sekarang lebih sering membobol akun nasabah dibanding membobol mesin ATM. Mereka mencari celah dari data pribadi dan akses mobile banking korban,” katanya.
ATM Tidak Mudah Diretas Secara Langsung
Mesin ATM modern umumnya sudah dilengkapi sistem keamanan berlapis yang terhubung langsung dengan jaringan perbankan pusat. Karena itu, pembobolan ATM secara langsung tanpa akses akun nasabah tergolong sulit dilakukan.
Meski demikian, bukan berarti risiko kejahatan tidak ada. Pelaku masih dapat memanfaatkan kelemahan pengguna, terutama yang kurang memahami keamanan digital.
Nasabah yang sering memakai WiFi publik, membagikan kode OTP, atau mengklik tautan mencurigakan memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban pembobolan rekening.
Cara Mencegah Rekening Dibobol
Agar rekening tetap aman, pengguna disarankan menerapkan beberapa langkah berikut:
- Jangan pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun
- Hindari mengklik link mencurigakan
- Gunakan PIN dan password yang kuat
- Aktifkan notifikasi transaksi mobile banking
- Rutin mengganti password aplikasi perbankan
- Pastikan aplikasi bank berasal dari sumber resmi
- Hindari login mobile banking di perangkat orang lain
Selain itu, nasabah juga disarankan segera menghubungi pihak bank apabila menemukan transaksi mencurigakan di rekening mereka.
Dengan semakin berkembangnya layanan digital perbankan, pemahaman soal keamanan siber menjadi hal penting agar masyarakat tidak mudah menjadi korban kejahatan online.
Baca berita teknologi dan informasi digital terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Kardi)






