JurnalLugas.Com — Pergerakan pasar saham Indonesia kembali menunjukkan sinyal positif pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup menguat pada perdagangan Senin sore, 25 Mei 2026, seiring membaiknya sentimen global dan penguatan mayoritas bursa saham Asia.
IHSG ditutup naik 44,30 poin atau 0,72 persen ke level 6.206,35. Sementara indeks saham unggulan LQ45 turut melesat 10,77 poin atau 1,74 persen ke posisi 631,21.
Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik global.
Analis pasar modal dari Nusantara Equity Research, Aditya Pramana, menyebut pelaku pasar mulai kembali masuk ke aset berisiko setelah kekhawatiran konflik di Timur Tengah perlahan mereda.
“Pasar Asia bergerak lebih optimistis karena investor melihat peluang stabilitas geopolitik mulai terbuka. Itu membuat sentimen risk-on kembali muncul,” ujarnya.
Saham Perbankan dan Energi Jadi Penopang
Sepanjang perdagangan, sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi motor penguatan IHSG. Saham sektor perbankan dan energi terlihat mendominasi transaksi setelah investor asing kembali melakukan aksi beli secara selektif.
Pelaku pasar juga mencermati pergerakan harga minyak dunia yang relatif stabil di tengah harapan adanya komunikasi damai antara Washington dan Teheran.
Kondisi tersebut dinilai membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor eksternal, stabilitas ekonomi domestik juga masih menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka panjang.
Bursa Asia Kompak Menghijau
Penguatan IHSG turut mengikuti tren positif mayoritas bursa kawasan Asia. Sejumlah indeks utama regional ditutup di zona hijau karena investor menilai potensi ketegangan geopolitik mulai menurun.
Pasar juga merespons positif peluang terbukanya jalur negosiasi baru antara Amerika Serikat dan Iran yang selama ini menjadi perhatian utama investor global.
Menurut pengamat ekonomi pasar finansial, Denny Ardiansyah, ketegangan geopolitik memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan modal internasional.
“Ketika konflik mereda, investor biasanya kembali mencari peluang di pasar saham karena dianggap lebih menguntungkan dibanding aset safe haven,” katanya.
Investor Masih Waspadai Risiko Global
Meski IHSG berhasil menguat, pelaku pasar tetap diminta mewaspadai sejumlah risiko eksternal yang masih berpotensi memicu volatilitas.
Di antaranya adalah arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, kondisi ekonomi Tiongkok, hingga perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih dinamis.
Namun untuk jangka pendek, sentimen positif dari kawasan global dinilai masih memberi ruang bagi IHSG untuk bergerak stabil.
Analis menilai level psikologis 6.200 menjadi area penting yang kini berhasil dipertahankan pasar saham Indonesia.
Baca berita ekonomi, bisnis, dan pasar saham terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






