JurnalLugas.Com — Wacana penggunaan gas CNG (Compressed Natural Gas) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kilogram mulai menjadi perhatian publik. Di tengah tingginya konsumsi gas rumah tangga dan beban impor LPG yang terus meningkat, pemerintah mulai melirik CNG sebagai solusi energi yang dinilai lebih hemat dan berbasis sumber daya dalam negeri.
Isu ini ramai diperbincangkan setelah sejumlah pejabat menyebut harga CNG berpotensi lebih murah dibanding gas melon subsidi. Namun, benarkah CNG bisa menggantikan LPG yang selama ini digunakan jutaan masyarakat Indonesia?
CNG merupakan gas alam yang dipadatkan melalui tekanan tinggi sehingga lebih praktis untuk disimpan dan didistribusikan. Berbeda dengan LPG yang berasal dari campuran propana dan butana, CNG didominasi gas metana yang bersumber dari cadangan gas bumi nasional.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, pernah menilai pemanfaatan gas bumi domestik memang dapat mengurangi ketergantungan impor LPG. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi gas alam cukup besar yang selama ini belum dimaksimalkan untuk kebutuhan rumah tangga.
“Pemanfaatan gas bumi domestik bisa menjadi langkah strategis untuk menekan impor energi,” ujarnya dalam salah satu diskusi energi nasional, Senin 25 Mei 2026.
Secara harga, CNG disebut lebih ekonomis karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Pemerintah bahkan mengklaim biaya penggunaan CNG dapat lebih rendah dibanding LPG subsidi jika infrastruktur distribusinya sudah berjalan optimal.
Selain faktor harga, CNG juga dinilai lebih ramah lingkungan. Emisi karbon yang dihasilkan lebih rendah dibanding LPG sehingga dianggap mendukung transisi energi bersih yang kini mulai diterapkan di banyak negara.
Meski memiliki sejumlah keunggulan, penggunaan CNG untuk rumah tangga bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah kebutuhan tabung dan regulator khusus karena tekanan gas CNG jauh lebih tinggi dibanding LPG biasa.
Artinya, masyarakat tidak bisa langsung menggunakan kompor LPG lama tanpa penyesuaian perangkat tertentu. Infrastruktur pengisian dan distribusi juga masih sangat terbatas dibanding jaringan LPG yang sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia.
Di sisi lain, gas melon sudah lama menjadi pilihan utama masyarakat karena mudah ditemukan, praktis digunakan, dan distribusinya relatif stabil hingga tingkat desa. Faktor kebiasaan masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri jika pemerintah ingin melakukan konversi energi secara besar-besaran.
Pengamat ekonomi energi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Talattov, menyebut keberhasilan program pengganti LPG sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan jaminan keamanan penggunaan di masyarakat.
“Kalau distribusi dan perangkat belum siap, masyarakat akan sulit beralih,” katanya.
Sejumlah negara sebenarnya telah lebih dulu menggunakan CNG sebagai bahan bakar kendaraan maupun kebutuhan industri. Namun penerapan untuk rumah tangga dalam skala luas masih membutuhkan investasi besar dan sosialisasi panjang.
Karena itu, dalam waktu dekat LPG 3 kilogram diperkirakan masih menjadi andalan masyarakat Indonesia. Meski begitu, peluang CNG sebagai energi alternatif tetap terbuka, terutama jika pemerintah mampu menghadirkan harga lebih murah, distribusi aman, dan akses yang mudah dijangkau publik.
Peralihan energi rumah tangga diprediksi akan berlangsung bertahap. Jika seluruh tantangan teknis dapat diatasi, bukan tidak mungkin CNG menjadi pesaing serius gas melon di masa depan.
Baca berita dan informasi menarik lainnya di JurnalLugas.Com
(Wening)





