Trump Ganas, Oman Diancam Dibom Jika Kuasai Selat Hormuz

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan peringatan keras terkait situasi di Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia itu kini kembali menjadi sorotan internasional menyusul memanasnya hubungan Washington dengan Iran dan negara-negara di sekitarnya.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu (27/5), Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan adanya upaya penguasaan jalur laut vital tersebut oleh pihak mana pun yang dinilai mengancam kepentingan global maupun stabilitas perdagangan internasional.

Bacaan Lainnya

Trump menyebut Oman harus tetap berada dalam jalur kerja sama internasional dan tidak terlibat dalam skenario yang dapat memperbesar pengaruh Iran di Selat Hormuz. Ia bahkan mengeluarkan ancaman keras apabila ada pihak yang mencoba mengendalikan akses pelayaran di kawasan tersebut.

“Oman harus bertindak seperti negara lain. Jika tidak, kami akan mengambil langkah tegas,” ujar Trump singkat kepada awak media.

Pernyataan itu langsung memicu perhatian dunia internasional mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling sibuk di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintasi wilayah tersebut setiap harinya.

Baca Juga  Presiden Iran Masoud Pezeshkian Sampaikan Belasungkawa, Siap Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Sumatera

Blokade Laut Mulai Berdampak

Situasi semakin kompleks setelah Angkatan Laut Amerika Serikat sejak pertengahan April dilaporkan mulai memperketat pengawasan dan pembatasan lalu lintas kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.

Washington menegaskan kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan aktivitas ekonomi Iran yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan. Meski demikian, kapal-kapal non-Iran disebut masih diperbolehkan melintas selama tidak melakukan transaksi atau pembayaran tertentu kepada Teheran.

Di sisi lain, otoritas Iran hingga kini belum secara resmi memberlakukan pungutan terhadap kapal asing yang melintas. Namun sejumlah pejabat di Teheran diketahui pernah membuka wacana mengenai kebijakan tersebut sebagai respons atas tekanan ekonomi dari Barat.

Pengamat geopolitik Timur Tengah menilai situasi ini dapat memicu ketidakpastian baru di pasar energi global apabila eskalasi terus berlanjut.

“Selat Hormuz adalah titik sensitif perdagangan dunia. Sedikit saja konflik meningkat, harga minyak bisa langsung melonjak,” kata seorang analis keamanan maritim regional.

Project Freedom Sempat Diluncurkan

Awal Mei lalu, Trump juga sempat memperkenalkan program bertajuk Project Freedom, sebuah inisiatif yang diklaim bertujuan membantu kapal-kapal internasional yang mengalami hambatan pelayaran di sekitar Selat Hormuz.

Baca Juga  Trump Gugat Dow Jones dan Rupert Murdoch Dugaan Pencemaran Nama Baik Kasus Epstein

Program itu awalnya diproyeksikan sebagai bentuk perlindungan militer terhadap kapal dagang internasional. Namun hanya sehari setelah diumumkan, operasi tersebut mendadak dihentikan sementara.

Pemerintah AS saat itu menyatakan penghentian dilakukan guna memberi ruang diplomasi dengan Iran sebelum langkah militer lebih lanjut diputuskan.

Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) pada Selasa membantah laporan yang menyebut pihaknya kembali melakukan pengawalan aktif terhadap kapal-kapal dagang di kawasan tersebut.

Meski belum ada konfirmasi mengenai operasi baru, situasi di Selat Hormuz diperkirakan masih akan menjadi salah satu fokus utama politik luar negeri Amerika Serikat dalam beberapa pekan ke depan.

Ketidakpastian tersebut membuat sejumlah negara pengimpor minyak mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan distribusi energi global.

Baca berita internasional terbaru lainnya di https://JurnalLugas.com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait