JurnalLugas.Com — Seluruh kapal tanker minyak mentah yang berkaitan dengan Jepang dan sebelumnya berada di kawasan berisiko di Teluk Persia dilaporkan telah berhasil melintasi Selat Hormuz.
Meski demikian, pemerintah Jepang masih terus memantau perkembangan situasi keamanan karena ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut belum mereda.
Informasi itu disampaikan seorang sumber yang mengetahui perkembangan operasional pelayaran, Selasa (14/7/2026).
Menurut sumber tersebut, seluruh tanker yang sedang melakukan pelayaran keluar dari Teluk Persia telah melewati Selat Hormuz dengan selamat.
Namun, masih terdapat empat kapal lain yang memiliki keterkaitan dengan Jepang dan hingga kini masih berada di kawasan Teluk Persia sambil menunggu perkembangan situasi keamanan.
Berdasarkan data pelacakan pelayaran internasional, sejumlah kapal tanker, termasuk yang dioperasikan perusahaan pelayaran Jepang, telah bergerak meninggalkan kawasan Selat Hormuz.
Beberapa di antaranya diketahui sedang berlayar menuju Jepang untuk memenuhi kebutuhan pasokan energi.
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam perdagangan energi dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari kawasan Timur Tengah menuju berbagai negara di Asia, Eropa, dan wilayah lainnya.
Situasi keamanan di kawasan tersebut kembali menjadi perhatian internasional setelah meningkatnya ketegangan geopolitik dalam beberapa hari terakhir.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz.
Tidak lama berselang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya akan melanjutkan langkah pengamanan jalur pelayaran tersebut.
Trump juga mengemukakan gagasan mengenai penerapan pungutan sebesar 20 persen terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz dengan alasan biaya pengamanan jalur perdagangan internasional.
Pernyataan tersebut memicu berbagai tanggapan dari sejumlah negara karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi stabilitas pasokan energi global.
Pemerintah Jepang menegaskan keselamatan pelayaran tetap menjadi prioritas utama.
Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang Yasushi Kaneko mengatakan pihaknya terus memantau kondisi di kawasan tersebut secara intensif.
“Pemulihan navigasi yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz menjadi prioritas utama kami dan situasinya terus kami pantau dengan saksama,” ujar Kaneko.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang menjelaskan bahwa pengawasan tidak hanya mencakup kapal berbendera Jepang, tetapi juga kapal berbendera asing yang membawa awak berkewarganegaraan Jepang, dioperasikan perusahaan pelayaran Jepang, maupun kapal pengangkut logistik yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan bagi perekonomian nasional.
Pengamat maritim menilai kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sangat menentukan stabilitas harga energi dunia.
Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi biaya logistik internasional, harga minyak mentah, hingga inflasi di berbagai negara yang bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah.
Meski sejumlah tanker telah berhasil melintas dengan aman, perkembangan situasi keamanan di Selat Hormuz diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama komunitas internasional dalam beberapa waktu ke depan.
Baca berita internasional, energi, dan ekonomi global terbaru lainnya di https://JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






