Harga Beras Masih Tinggi Meski Stok Nasional Diklaim Melimpah, Komoditas Pangan Lainnya Belum Stabil

JurnalLugas.Com – Harga beras di pasar eceran nasional masih bertahan pada level yang relatif tinggi hingga Sabtu, 18 Juli 2026.

Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama setelah pemerintah beberapa waktu terakhir menyampaikan bahwa cadangan beras nasional berada dalam kondisi kuat dan pasokan dinilai mencukupi.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data terbaru Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga beras dari berbagai kualitas belum menunjukkan penurunan berarti.

Bahkan, untuk beras kualitas premium, harga masih bertahan di atas Rp17 ribu per kilogram.

Fenomena tersebut menjadi perhatian karena dalam teori ekonomi, meningkatnya pasokan umumnya akan diikuti oleh penyesuaian harga ke level yang lebih rendah.

Namun, kondisi di lapangan memperlihatkan harga beras masih membebani pengeluaran rumah tangga.

Beras Premium Masih Bertahan di Atas Rp17 Ribu

Data PIHPS menunjukkan harga beras kualitas bawah I berada di kisaran Rp14.750 per kilogram, sedangkan kualitas bawah II mencapai Rp14.550 per kilogram.

Untuk beras kualitas medium, harga masih berada pada level Rp16.350 per kilogram untuk medium I dan Rp16.150 per kilogram untuk medium II.

Sementara itu, beras kualitas super I tercatat Rp17.650 per kilogram, sedangkan kualitas super II masih berada di Rp17.150 per kilogram.

Harga tersebut menunjukkan bahwa komoditas pangan pokok masyarakat belum mengalami penurunan signifikan meskipun pasokan nasional disebut dalam kondisi aman.

Baca Juga  Stok Beras RI Tembus 4,3 Juta Ton, Bulog Jangan Panic Buying Digudang Banyak

Seorang pengamat ekonomi pangan menilai harga beras tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah stok nasional, tetapi juga distribusi, biaya logistik, rantai perdagangan, hingga dinamika permintaan di berbagai daerah.

“Ketersediaan stok memang penting, tetapi harga di tingkat konsumen dipengaruhi banyak faktor. Distribusi dan efisiensi rantai pasok menjadi penentu utama,” ujarnya.

Cabai Masih Menjadi Penyumbang Inflasi Pangan

Selain beras, kelompok komoditas hortikultura juga masih menunjukkan harga yang relatif tinggi.

Cabai rawit merah tercatat mencapai Rp57.250 per kilogram, menjadi salah satu komoditas dengan harga tertinggi di kelompok sayuran.

Harga cabai rawit hijau berada di Rp53.000 per kilogram, sedangkan cabai merah besar dijual sekitar Rp47.450 per kilogram dan cabai merah keriting mencapai Rp46.500 per kilogram.

Fluktuasi harga cabai selama ini dipengaruhi musim panen, kondisi cuaca, hingga distribusi dari sentra produksi menuju pasar konsumsi.

Bawang dan Minyak Goreng Belum Banyak Bergerak

Komoditas bumbu dapur juga masih berada pada level yang cukup tinggi.

Bawang merah dipasarkan sekitar Rp43.800 per kilogram, sementara bawang putih mencapai Rp43.750 per kilogram.

Di sektor minyak goreng, harga minyak curah tercatat Rp20.550 per liter. Adapun minyak goreng kemasan bermerek I dijual sekitar Rp24.200 per liter, sedangkan kemasan bermerek II berada di kisaran Rp23.450 per liter.

Harga tersebut menunjukkan kebutuhan pokok rumah tangga masih membutuhkan alokasi belanja yang cukup besar dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Protein Hewani Relatif Stabil

Untuk sumber protein, harga telur ayam ras berada di angka Rp20.550 per kilogram, sementara daging ayam ras segar dipasarkan sekitar Rp38.450 per kilogram.

Di sisi lain, harga daging sapi kualitas I tercatat Rp150.600 per kilogram, sedangkan kualitas II berada di kisaran Rp141.550 per kilogram.

Sementara itu, gula pasir premium dijual Rp20.300 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal mencapai Rp19.100 per kilogram.

Tingginya harga sejumlah kebutuhan pokok menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan tetap.

Kenaikan biaya belanja rumah tangga membuat banyak keluarga harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.

Pelaku pasar berharap stabilisasi pasokan, kelancaran distribusi, serta pengawasan terhadap rantai perdagangan dapat membantu menekan harga pangan secara bertahap agar lebih terjangkau bagi konsumen.

Di sisi lain, konsistensi pasokan dari sentra produksi hingga pasar tradisional dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.

Dengan harga beras yang masih bertahan tinggi dan sejumlah komoditas lain belum mengalami penurunan signifikan, perkembangan pasar pangan nasional akan terus menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa waktu ke depan.

Baca berita ekonomi, harga pangan, dan informasi nasional terbaru hanya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait