JurnalLugas.Com – Hubungan diplomatik Iran dan Inggris kembali memanas setelah pemerintah Inggris memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi yang dinilai sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Langkah tersebut langsung memicu protes resmi dari Teheran.
Kementerian Luar Negeri Iran memanggil Duta Besar Inggris untuk Teheran, Hugo Shorter, guna menyampaikan keberatan atas kebijakan yang dianggap merugikan kepentingan negaranya.
Direktur Jenderal Urusan Eropa Barat Kementerian Luar Negeri Iran, Alireza Yousefi, menilai keputusan London sebagai tindakan yang tidak bersahabat dan berpotensi memperburuk hubungan bilateral.
“Iran memandang tuduhan terhadap IRGC sebagai langkah yang tidak bertanggung jawab dan bertentangan dengan prinsip hubungan antarnegara,” ujar Yousefi dalam pernyataan resminya.
Iran Tolak Tuduhan terhadap IRGC
Dalam pertemuan dengan perwakilan Inggris, Iran juga mempersoalkan pernyataan Menteri Keamanan Inggris Angela Eagle yang sebelumnya menuding IRGC terlibat dalam aktivitas yang mengancam keamanan di wilayah Inggris.
Menurut Teheran, tuduhan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan dinilai hanya memperkeruh hubungan diplomatik kedua negara.
Iran menegaskan bahwa setiap kebijakan atau regulasi yang secara khusus menyasar negara maupun lembaga resmi Iran akan memperoleh respons yang setimpal sesuai kepentingan nasionalnya.
Inggris Siapkan Aturan Baru
Pemerintah Inggris sebelumnya mengumumkan rencana memasukkan IRGC bersama dua organisasi lainnya ke dalam daftar ancaman berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional (Ancaman Negara) 2026.
Apabila mendapat persetujuan parlemen, status tersebut akan memberikan kewenangan hukum lebih luas kepada pemerintah Inggris untuk menindak aktivitas yang berkaitan dengan organisasi yang telah ditetapkan.
Aturan tersebut juga mengatur bahwa dukungan, bantuan, maupun penerimaan keuntungan material dari organisasi yang masuk daftar ancaman dapat diproses sebagai tindak pidana, dengan ancaman hukuman yang dalam kasus tertentu dapat mencapai penjara seumur hidup.
Penetapan IRGC sebagai ancaman keamanan nasional menjadi babak baru dalam hubungan yang selama ini telah diwarnai berbagai perbedaan pandangan antara London dan Teheran.
Sebelumnya, Inggris juga telah menjatuhkan berbagai sanksi terhadap IRGC sebagai bagian dari kebijakan luar negerinya.
Sementara itu, Iran menegaskan akan terus mempertahankan posisi dan kepentingan nasionalnya serta tidak akan tinggal diam apabila terdapat kebijakan negara lain yang dinilai merugikan lembaga maupun institusi resmi negara tersebut.
Pengamat menilai perkembangan ini berpotensi memperpanjang ketegangan diplomatik antara kedua negara, terutama di tengah dinamika keamanan kawasan Timur Tengah yang masih menjadi perhatian dunia internasional.
Ikuti berita internasional dan perkembangan geopolitik dunia terbaru hanya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






