JurnalLugas.Com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai langkah antisipatif yang disiapkan Teheran apabila konflik militer terus meluas.
Salah satu skenario yang disebut tengah dipertimbangkan adalah penutupan Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Informasi tersebut berasal dari sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal di lingkungan kepemimpinan Iran.
Dalam skenario itu, kelompok Houthi di Yaman disebut telah diminta meningkatkan kesiapsiagaan apabila fasilitas penting di Iran kembali menjadi sasaran serangan.
Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia. Ribuan kapal dagang dan tanker energi melintasi kawasan tersebut setiap tahun sehingga setiap ancaman terhadap jalur ini berpotensi mengganggu rantai pasok global, memperlambat distribusi barang, hingga memengaruhi harga energi internasional.
Seorang sumber yang mengetahui perkembangan di Yaman menyebut kelompok Houthi telah meningkatkan kesiapan operasional dengan menempatkan sejumlah sistem persenjataan, termasuk rudal dan pesawat nirawak, di sekitar wilayah strategis.
“Persiapan telah dilakukan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut,” ujar sumber tersebut.
Laporan yang beredar juga menyebut sejumlah perwakilan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran berada di Yaman untuk melakukan koordinasi apabila situasi berkembang ke tahap berikutnya.
Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi keputusan penutupan selat tersebut.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir meningkatkan operasi militernya terhadap sejumlah sasaran di Iran.
Washington menyatakan langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas ancaman terhadap keamanan pelayaran internasional dan untuk mengurangi kemampuan militer Iran di kawasan.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Aksi saling serang tersebut memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Pengamat hubungan internasional menilai setiap gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb dapat membawa dampak signifikan terhadap perdagangan global.
Selain menjadi jalur distribusi minyak dan gas, kawasan itu juga menjadi lintasan utama berbagai komoditas dari Asia menuju Eropa dan sebaliknya.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan situasi karena setiap peningkatan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga minyak dunia, biaya logistik, serta stabilitas ekonomi internasional.
Ikuti perkembangan berita internasional, ekonomi, dan geopolitik terbaru hanya di https://JurnalLugas.Com.
(Handoko)






