JurnalLugas.Com — Perbedaan pandangan muncul dalam pembicaraan mengenai masa depan operasi militer Israel di Jalur Gaza.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut ingin mempertahankan operasi pembunuhan terarah, sementara utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, dilaporkan menolak langkah tersebut.
Perselisihan itu mencuat setelah Netanyahu bertemu Kushner dan perwakilan Board of Peace (BoP) untuk Gaza, Nikolay Mladenov, di Israel pada Senin.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika upaya penerapan kesepakatan gencatan senjata Gaza masih menghadapi persoalan besar, terutama mengenai penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas.
Sumber yang mengetahui pembicaraan itu menyebut Netanyahu tetap pada sikapnya untuk melanjutkan operasi, sedangkan Kushner mengambil posisi berbeda.
“Netanyahu ingin operasi diteruskan, sementara Kushner menolaknya,” kata sumber tersebut, sebagaimana dilaporkan media Israel.
Perbedaan sikap itu menjadi penting karena Washington melalui utusannya ikut mendorong pelaksanaan kesepakatan yang diharapkan dapat menghentikan konflik berkepanjangan di Gaza.
Netanyahu menginginkan Hamas terlebih dahulu menyerahkan seluruh persenjataannya sebelum Israel menarik pasukan dari wilayah tersebut.
Hamas sendiri menyatakan kesediaan membahas pelucutan senjata dengan syarat penarikan pasukan Israel dilakukan secara bertahap dan teratur.
Posisi tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan peta jalan Board of Peace yang diterbitkan pada akhir Juli. Rencana itu menempatkan proses pelucutan senjata dan penarikan pasukan dalam tahapan yang berjalan beriringan.
Kushner sebelumnya melakukan pertemuan di Mesir dengan Presiden Abdel Fattah el-Sisi serta sejumlah pejabat Hamas.
Rangkaian pertemuan tersebut menunjukkan adanya upaya diplomatik untuk mencari titik temu di tengah kebuntuan pelaksanaan gencatan senjata.
Namun, perbedaan antara Netanyahu dan pihak yang mewakili Trump berpotensi menjadi tantangan baru. Kesepakatan di meja perundingan tidak akan mudah diterapkan jika persoalan operasi militer dan penarikan pasukan belum menemukan titik temu.
Di lapangan, dampak konflik masih terus dirasakan warga Gaza. Data Kementerian Kesehatan Gaza yang tercantum dalam laporan tersebut menyebut pelanggaran gencatan senjata telah menyebabkan korban jiwa dan ribuan orang terluka.
Perang yang berlangsung sejak Oktober 2023 juga telah menimbulkan kehancuran luas terhadap wilayah Gaza.
Kerusakan infrastruktur dan tingginya jumlah korban membuat setiap keputusan mengenai kelanjutan operasi militer memiliki konsekuensi kemanusiaan yang besar.
Baca perkembangan berita internasional lainnya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






