JurnalLugas.Com — Hubungan dagang Amerika Serikat dan Kanada kembali memanas. Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik keras kepada Kanada di tengah meningkatnya ketegangan tarif antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan komentator politik Glenn Beck pada Rabu, 26 Agustus 2026, Trump menyebut Kanada sebagai salah satu negara yang paling sulit diajak berurusan. Ia menilai Amerika Serikat telah dirugikan dalam hubungan perdagangan dengan negara tetangganya tersebut selama bertahun-tahun.
Trump juga menyoroti defisit perdagangan AS yang disebut mencapai sekitar 60 miliar dolar AS. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi alasan Washington perlu mengambil langkah lebih tegas terhadap Ottawa.
“Mereka sudah lama memanfaatkan AS,” kata Trump, sembari menegaskan bahwa Kanada harus memahami perubahan sikap Washington.
Pernyataan itu muncul setelah kebijakan tarif kedua negara memasuki babak baru. Amerika Serikat pada 22 Agustus memberlakukan tarif 50 persen terhadap sejumlah barang asal Kanada. Tarif tambahan 50 persen untuk produk otomotif dan baja juga dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari.
Kanada kemudian menyiapkan tindakan balasan. Ottawa mengumumkan tarif sebesar 15 persen hingga 50 persen terhadap sejumlah produk impor dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai 27,6 miliar dolar Kanada. Kebijakan tersebut dijadwalkan berlaku mulai 8 September.
Trump mengatakan Amerika Serikat tidak sepenuhnya bergantung pada sumber daya Kanada. Menurutnya, jika terjadi gangguan pasokan, Washington masih memiliki pilihan untuk mendapatkan barang dari negara lain.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya sebelumnya telah menawarkan kesepakatan yang dinilai cukup baik. Namun, pembicaraan terbaru kedua negara justru menemui jalan buntu.
Eskalasi ini menunjukkan hubungan ekonomi AS-Kanada menghadapi tekanan serius. Bagi pelaku usaha dan konsumen di kedua negara, perang tarif berpotensi membuat rantai pasok dan perdagangan lintas perbatasan kembali menghadapi ketidakpastian.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah Washington dan Ottawa mampu membuka kembali jalur negosiasi atau justru melanjutkan aksi saling menaikkan tarif.
Baca berita dan informasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






