JurnalLugas.Com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) disebut tidak memiliki rencana untuk melancarkan serangan militer baru terhadap Iran dalam waktu dekat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan hal tersebut kepada sejumlah negara sekutu. Menurut keterangan seorang pejabat AS yang dikutip media, Washington kini lebih memilih menggunakan tekanan nonmiliter untuk menghadapi Pemerintah Iran.
Sanksi ekonomi menjadi salah satu instrumen utama yang akan digunakan AS. Perubahan pendekatan ini menandai pergeseran strategi Washington setelah ketegangan antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
“Fokus pemerintah saat ini adalah menggunakan instrumen tekanan selain operasi militer,” kata pejabat AS tersebut sebagaimana dikutip media.
Langkah itu semakin terlihat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan sanksi baru terhadap Iran pada Senin, 24 Agustus 2026. Sanksi tersebut menyasar sejumlah sektor strategis, mulai dari penerbangan, pelayaran, teknologi, emas hingga aset digital.
AS juga menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 60 entitas, individu dan kapal yang disebut memiliki keterkaitan dengan Iran.
Perubahan kebijakan tersebut menunjukkan Washington kini berusaha memberikan tekanan terhadap Teheran melalui jalur ekonomi dan keuangan, bukan dengan membuka kembali front serangan militer baru.
Meski demikian, perkembangan hubungan AS-Iran masih menjadi perhatian dunia. Kebijakan sanksi dapat memengaruhi hubungan ekonomi internasional dan berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian Iran.
Situasi selanjutnya akan bergantung pada respons Pemerintah Iran serta langkah yang diambil Washington dalam menghadapi perkembangan konflik dan hubungan kedua negara.
Baca perkembangan berita internasional lainnya di JurnalLugas.Com.
(Dahlan)






