JurnalLugas.Com – Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat. Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran Khatam Al-Anbiya memperingatkan bahwa seluruh pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah dapat menjadi sasaran apabila Washington kembali melancarkan serangan.
Peringatan itu disampaikan dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran pada Minggu, 20 September 2026. Iran menyatakan respons berikutnya akan dilakukan secara luas terhadap kepentingan AS di kawasan.
“Jika AS kembali menyerang, pangkalan dan kepentingannya di kawasan akan menjadi sasaran,” demikian inti pernyataan Khatam Al-Anbiya.
Iran juga memperingatkan negara-negara Timur Tengah yang dinilai ikut membantu operasi militer Amerika Serikat. Teheran menyatakan negara yang terlibat dapat dipandang sebagai bagian dari konflik.
Khatam Al-Anbiya turut mengklaim memperoleh informasi mengenai persiapan operasi militer baru terhadap Iran. Klaim tersebut merupakan pernyataan dari pihak Iran dan belum dapat dipastikan secara independen.
Ancaman terbaru itu muncul ketika konflik Iran-AS yang dimulai pada 28 Februari masih belum menemukan penyelesaian. Kedua pihak telah terlibat dalam serangkaian serangan dan saling memberikan peringatan sejak pecahnya perang.
Upaya penghentian permusuhan yang dicapai pada Juni juga tidak bertahan lama. Hingga September, kontak untuk mengakhiri konflik masih menghadapi kebuntuan, sementara ketegangan kawasan terus meluas.
Presiden AS Donald Trump pada 20 September juga menyampaikan tekanan keras terhadap Iran, sementara pihak militer Iran menyatakan akan memberikan respons berat jika serangan baru dilakukan.
Dampak konflik tidak hanya berada di medan militer. Jalur pelayaran dan energi kawasan ikut terdampak. Aktivitas kapal yang melintasi Selat Hormuz turun tajam di tengah ketegangan berkepanjangan antara Washington dan Teheran.
Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Perkembangan tersebut memperluas risiko konflik ke jalur pelayaran dan infrastruktur energi kawasan.
Amerika Serikat sendiri terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi dan langkah pembatasan lainnya. Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan tekanan militer sebagai bagian dari respons terhadap serangan dan kebijakan Washington.
Dengan perang yang telah berlangsung berbulan-bulan, ancaman terbaru dari Teheran menunjukkan bahwa risiko eskalasi masih terbuka. Setiap serangan baru berpotensi memperluas sasaran dari wilayah Iran ke pangkalan dan kepentingan AS serta negara-negara yang terlibat di kawasan.
Baca berita internasional terbaru hanya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






