JurnalLugas.Com – Pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mendapat sorotan setelah insiden serius dalam penerbangan FlyDubai menuju Tel Aviv.
Pemimpin oposisi sekaligus Ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, menilai pemerintah Netanyahu belum mengambil pelajaran dari kegagalan yang terjadi sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kritik itu disampaikan Eisenkot setelah penerbangan FlyDubai FZ1073 dari Dubai menuju Tel Aviv mengalami insiden di kokpit pada 30 September 2026. Pesawat kemudian dialihkan dan mendarat di Tabuk, Arab Saudi.
Eisenkot menilai pemerintah tidak boleh menghindari penyelidikan dan tanggung jawab. Menurut dia, evaluasi menyeluruh diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Ia juga mendesak Menteri Transportasi Miri Regev mengundurkan diri. Jika Regev tidak bersedia, Eisenkot meminta Netanyahu mengambil tindakan terhadap menteri tersebut.
Insiden terjadi ketika kopilot dilaporkan menyerang kapten di dalam kokpit. Berdasarkan keterangan awal otoritas Uni Emirat Arab, kopilot menggunakan kapak pemecah kaca dan berupaya mengambil alih kendali pesawat. Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Tabuk.
Kasus tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai prosedur pemeriksaan dan keamanan penerbangan asing yang menuju Israel. Pemeriksaan lebih lanjut masih dilakukan oleh otoritas terkait.
Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett juga ikut mengkritik pemerintah Netanyahu. Ia mengaitkan insiden tersebut dengan persoalan kegagalan keamanan yang sebelumnya terjadi menjelang serangan 7 Oktober 2023.
Eisenkot juga menyerukan masyarakat Israel menggunakan hak pilih pada pemilu 27 Oktober. Ia menyatakan ingin menghadirkan kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab setelah pemilu tersebut.
Sementara itu, penyelidikan terhadap insiden FlyDubai masih berlangsung. Motif dan rangkaian lengkap kejadian di dalam pesawat belum seluruhnya terungkap.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com
(Handoko)






