JurnalLugas.Com – Lima perempuan Muslim yang mengenakan hijab berhasil mencatatkan kemenangan dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.
Mereka memperoleh kursi di lembaga legislatif, sebuah perkembangan penting bagi keterwakilan komunitas Muslim dalam politik Negeri Paman Sam.
Keberhasilan tersebut diraih di tengah menguatnya perdebatan mengenai Islam dan komunitas Muslim di Amerika Serikat. Kelima politikus dari Partai Demokrat itu adalah Ruwa Romman, Aber Kawas, Nabeela Syed, Maryam Khan, dan Ilhan Omar.
Empat di antaranya meraih kursi di senat negara bagian, sedangkan Ilhan Omar kembali mempertahankan posisinya di Kongres AS.
Latar belakang dan perjalanan politik mereka berbeda, tetapi kemenangan tersebut memperlihatkan kehadiran perempuan Muslim dalam proses pengambilan keputusan publik.
Ruwa Romman, Pelopor di Georgia
Ruwa Romman kembali mencatatkan sejarah politik di Georgia. Ia memenangkan pemilihan untuk kursi Senat Negara Bagian setelah sebelumnya dikenal sebagai perempuan Muslim pertama berhijab yang terpilih menjadi anggota legislatif di negara bagian tersebut.
Namanya mulai dikenal secara nasional ketika Pemilu Presiden AS 2024. Saat itu, Romman menjadi salah satu tokoh yang dipersiapkan untuk menyuarakan aspirasi warga Palestina dalam konvensi Partai Demokrat, meski permintaan agar pembicara Palestina diberi kesempatan akhirnya tidak terpenuhi.
Aber Kawas, Aktivis Palestina-Amerika
Aber Kawas berhasil memenangkan kursi Senat Negara Bagian New York. Perempuan keturunan Palestina itu dijadwalkan mulai menjalankan tugas pada Januari mendatang.
Pengalaman keluarganya berhadapan dengan kebijakan imigrasi Amerika Serikat menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Kawas. Ayahnya pernah ditahan otoritas imigrasi selama hampir tiga tahun sebelum dideportasi ke Yordania.
Pengalaman tersebut turut membentuk perhatian Kawas terhadap hak-hak imigran dan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan sipil.
Nabeela Syed, Raih 57 Persen Suara di Illinois
Di Illinois, Nabeela Syed kembali memperoleh kepercayaan pemilih. Politikus Muslim keturunan India-Amerika berusia 27 tahun itu meraih 57 persen suara dalam persaingan melawan kandidat Partai Republik.
Syed pertama kali masuk legislatif pada 2022 untuk mengisi kursi yang kosong. Dalam kiprahnya, ia mengangkat isu keterjangkauan biaya hidup dan pemerataan akses layanan kesehatan.
Ia juga pernah bersama sejumlah anggota legislatif Illinois mendesak pemerintah Amerika Serikat mendorong gencatan senjata setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Maryam Khan, Menang di Connecticut
Maryam Khan, politikus kelahiran Pakistan, berhasil memenangkan pemilihan Senat Negara Bagian Connecticut. Sebelumnya, ia telah menjadi anggota legislatif sejak 2022 dan terlibat dalam sejumlah komite, termasuk bidang pendidikan dan peradilan.
Khan pernah menjadi sorotan setelah memasang bendera Pakistan di meja kerjanya. Ia menjelaskan tindakan tersebut sebagai bentuk kebanggaan terhadap latar belakang keluarganya.
“Saya memasang bendera Pakistan sebagai cerminan warisan budaya dan kebanggaan pribadi saya,” kata Khan.
Ia juga menegaskan bahwa menunjukkan asal-usul keluarga tidak berarti mengurangi komitmennya terhadap Amerika Serikat.
Ilhan Omar Kembali ke Kongres AS
Nama Ilhan Omar menjadi salah satu yang paling dikenal di antara kelima perempuan tersebut. Politikus asal Minnesota itu kembali memenangkan pemilihan dan mengamankan masa jabatan kelimanya di House of Representatives.
Omar merupakan salah satu perempuan Muslim pertama yang menjadi anggota DPR Amerika Serikat pada 2018. Ia lahir di Somalia dan tiba di AS pada 1995 sebagai pengungsi anak-anak sebelum kemudian memperoleh kewarganegaraan Amerika.
Selama berkarier di Kongres, Omar berulang kali menjadi sasaran kritik Presiden Donald Trump dan sejumlah politikus Partai Republik. Ia juga membantah tuduhan Trump mengenai pernikahannya yang dikaitkan dengan kepentingan imigrasi.
Kemenangan di Tengah Sentimen Anti-Muslim
Kemenangan kelima perempuan tersebut berlangsung ketika isu Islamofobia dan retorika anti-Muslim masih menjadi bagian dari perdebatan politik di Amerika Serikat.
Wakil Presiden Bidang Kebijakan dan Program Muslim Public Affairs Council (MPAC), Haris Tarin, menilai hasil pemilu menunjukkan bahwa sentimen anti-Muslim tidak menghalangi para kandidat tersebut memperoleh dukungan pemilih.
“Islamofobia bukanlah strategi yang berhasil dalam siklus pemilu kali ini,” kata Tarin.
Hasil pemilihan ini menambah catatan tentang keterwakilan perempuan Muslim berhijab di lembaga politik Amerika Serikat.
Mereka kini memiliki ruang lebih besar untuk menyampaikan aspirasi masyarakat dan terlibat dalam proses penyusunan kebijakan.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






