JurnalLugas.Com — PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) berencana mengambil alih 6,685 miliar saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Jumlah tersebut setara dengan 29,88 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh INET, dengan nilai transaksi mencapai Rp2,005 triliun.
Pembelian saham dilakukan melalui anak usaha DOOH, PT Cakrawala Nexus Investama (CNI), yang kepemilikannya mencapai 99,99 persen. Saham tersebut akan dibeli dari PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) dengan harga Rp300 per lembar.
Rencana transaksi itu tercantum dalam keterbukaan informasi tambahan pada 5 November 2026. Nilainya mencapai 647,90 persen dari ekuitas DOOH yang tercatat sebesar Rp309,54 miliar per 30 Juni 2026.
Besarnya nilai transaksi membuat aksi korporasi tersebut masuk kategori transaksi material sesuai POJK Nomor 17 Tahun 2020. Karena itu, pelaksanaannya membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
AKUN Tetap Jadi Pengendali INET
Meski CNI nantinya menguasai hampir 30 persen saham INET, rencana pengalihan kepemilikan ini tidak serta-merta mengubah pengendali perusahaan.
Setelah transaksi selesai, kepemilikan AKUN diperkirakan tersisa sekitar 29,89 persen, sementara CNI memiliki 29,88 persen saham INET. AKUN tetap berstatus sebagai pemegang saham pengendali.
Posisi tersebut antara lain berkaitan dengan Muhammad Arif. Dia tercatat memiliki 26,15 persen saham AKUN sekaligus menjabat sebagai komisaris perusahaan tersebut, serta menjadi direktur utama INET.
Selain itu, CNI tidak memperoleh hak untuk menunjuk anggota direksi maupun komisaris INET.
Dari aspek kewajaran harga, Kantor Jasa Penilai Publik Toha, Okky, Heru dan Rekan menyatakan transaksi tersebut wajar. Penilaian mengacu pada rata-rata harga tertinggi saham INET selama 90 hari sebelum 30 Juni 2026, yakni Rp296 per saham.
Dengan harga pembelian Rp300 per saham, terdapat selisih sekitar 1,35 persen dari nilai acuan tersebut. Manajemen juga menyatakan transaksi bukan merupakan transaksi afiliasi maupun mengandung benturan kepentingan karena tidak ada hubungan afiliasi antara DOOH atau CNI dengan AKUN.
Pendanaan Akuisisi Bersumber dari IPO dan Pinjaman
Untuk membiayai pembelian saham INET, DOOH menyiapkan setoran modal sebesar Rp2 triliun kepada CNI.
Dana tersebut berasal dari hasil penawaran umum perdana saham atau IPO sebesar Rp120 miliar serta pencairan awal pinjaman dari PT Sinergi Internasional Investama (SII), pemegang saham pengendali DOOH, senilai Rp1,8855 triliun.
Pinjaman itu merupakan bagian dari fasilitas dengan plafon maksimal Rp5 triliun. Fasilitas tersebut dikenakan bunga sekitar 7,5 persen per tahun, sehingga pencairan awal diperkirakan menimbulkan beban bunga sekitar Rp150 miliar setiap tahun.
Rencana akuisisi juga akan mengubah struktur keuangan DOOH. Berdasarkan laporan keuangan proforma per 30 Juni 2026, total aset perseroan diproyeksikan meningkat dari Rp406,51 miliar menjadi Rp2,406 triliun.
Pada saat yang sama, liabilitas diperkirakan naik dari Rp96,97 miliar menjadi Rp2,096 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) juga meningkat dari 0,31 kali menjadi 6,77 kali.
Jika seluruh plafon pinjaman Rp5 triliun ditarik, DER diperkirakan dapat mencapai 16,47 kali. Untuk mengelola struktur permodalan, DOOH berencana melunasi dan/atau mengonversi pinjaman melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I).
INET Masuk Strategi Bisnis Infrastruktur Digital DOOH
Akuisisi saham INET menjadi bagian dari perubahan arah bisnis DOOH setelah SII menjadi pemegang saham pengendali pada 30 Juli 2026.
Perseroan berencana memperluas fokus usaha ke sektor infrastruktur telekomunikasi dan konektivitas, pusat data, serta infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
INET dinilai sejalan dengan arah tersebut karena memiliki kegiatan usaha di bidang layanan internet, pengembangan pusat data, dan kabel bawah laut.
Pada semester I 2026, INET mencatat pendapatan sebesar Rp926,45 miliar dan laba periode berjalan Rp34,21 miliar.
DOOH juga melihat peluang sinergi dengan bisnis yang telah dimilikinya, termasuk jaringan Free WiFi Ads di 80 stasiun serta 304 layar informasi di gerbong KRL.
Meski demikian, rencana pengambilalihan saham tersebut masih harus melalui persetujuan RUPS sebelum dapat diselesaikan.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






