JurnalLugas.Com — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan dirinya tidak khawatir menghadapi desakan pemakzulan yang diajukan sejumlah anggota parlemen.
Dia bahkan yakin upaya tersebut tidak akan berhasil, sebagaimana dua proses pemakzulan yang pernah dihadapi Presiden Donald Trump.
Pernyataan itu disampaikan Hegseth melalui video yang diunggah di akun X miliknya, Kamis. Dia menyebut inisiatif pemakzulan tersebut sebagai langkah politik yang tidak berdasar.
“Seorang anggota Kongres yang kecewa dan kalah, bersama seluruh sekutu Demokratnya, telah mengajukan pasal-pasal pemakzulan palsu terhadap saya,” kata Hegseth.
Dia kemudian membandingkan desakan terhadap dirinya dengan upaya pemakzulan Trump sebelumnya.
“Sama seperti upaya mereka terhadap Presiden Donald Trump dua kali. Upaya itu gagal terhadap Trump dan tidak akan berhasil terhadap saya,” lanjutnya.
DPR AS Dikabarkan Segera Bahas Pemakzulan
Pernyataan Hegseth muncul ketika tekanan politik terhadap dirinya semakin menguat. DPR Amerika Serikat dikabarkan berpeluang menggelar pemungutan suara terkait pemakzulan Menteri Pertahanan tersebut paling cepat pekan depan.
Desakan itu muncul dari sejumlah anggota parlemen, termasuk dari Partai Republik sendiri. Mereka mempersoalkan peran Hegseth dalam meyakinkan Trump untuk melancarkan perang terhadap Iran.
Kritik tersebut berkaitan dengan penilaian bahwa serangan militer terhadap Iran belum menghasilkan tujuan yang diharapkan. Situasi ini turut memunculkan pertanyaan mengenai pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan perang.
Trump Belum Berencana Mengganti Hegseth
Di tengah tekanan tersebut, Trump justru menyampaikan dukungan kepada kepala Pentagon itu.
Pada Rabu, Trump mengatakan tidak sedang mempertimbangkan untuk mengganti Hegseth. Dia juga memberikan pujian atas kinerja Menteri Pertahanan tersebut.
Namun, laporan lain menyebut Trump bersama sejumlah penasihatnya sempat membicarakan kemungkinan Hegseth tetap bertahan di jabatannya. Pembahasan itu berlangsung setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu sela.
Perbedaan informasi tersebut menunjukkan bahwa posisi Hegseth masih menjadi perhatian di lingkungan pemerintahan dan Partai Republik.
Pemilu Sela AS Ikut Memengaruhi Peta Politik
Amerika Serikat menggelar pemilu sela pada 3 November 2026. Pemungutan suara mencakup pemilihan 35 anggota Senat dan seluruh 435 anggota DPR, selain sejumlah pejabat legislatif serta gubernur di berbagai negara bagian.
Hasil pemilu sela menjadi faktor penting bagi peta kekuatan politik di Kongres. Perkiraan CNN menyebut Partai Demokrat berpeluang menguasai mayoritas kursi DPR.
Sementara itu, proyeksi Bloomberg memperkirakan Demokrat berpeluang menguasai Senat dengan sedikitnya 51 kursi.
Jika perubahan mayoritas tersebut terwujud, pemerintahan Trump berpotensi menghadapi tekanan politik yang lebih besar di Kongres. Namun, nasib Hegseth tetap bergantung pada proses politik dan konstitusional yang harus dilalui.
Untuk saat ini, Hegseth menyatakan yakin tetap bertahan. Sementara itu, kemungkinan pemungutan suara pemakzulan menjadi perkembangan berikutnya yang akan menentukan arah polemik di Washington.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






