Mengapa Efek Kopi pada Setiap Orang Bisa Berbeda? Ini Faktor Memengaruhinya

JurnalLugas.Com – Kopi bisa memberikan efek yang berbeda pada setiap orang. Ada yang merasa lebih segar, fokus, dan bersemangat setelah minum secangkir kopi.

Namun, sebagian lainnya justru mengalami jantung berdebar, tangan gemetar, sulit tidur, bahkan merasa gelisah meskipun hanya mengonsumsi kopi dalam jumlah sedikit.

Bacaan Lainnya

Perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan kebiasaan minum kopi. Respons tubuh terhadap kafein dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari faktor genetik, kondisi kesehatan, usia, hingga kebiasaan seseorang mengonsumsi minuman berkafein.

Kafein merupakan senyawa alami dalam kopi yang bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat. Zat ini terutama menghambat kerja adenosin, yaitu senyawa yang berperan dalam meningkatkan rasa kantuk.

Ketika aktivitas adenosin dihambat, seseorang dapat merasa lebih terjaga dan tidak mudah mengantuk. Namun, tingkat respons terhadap proses tersebut tidak selalu sama pada setiap individu.

1. Faktor Genetik Memengaruhi Kecepatan Tubuh Mengolah Kafein

Salah satu alasan utama efek kopi berbeda adalah faktor keturunan.

Tubuh mengolah sebagian besar kafein melalui enzim hati yang dipengaruhi gen CYP1A2. Perbedaan variasi gen ini dapat membuat seseorang memproses kafein lebih cepat, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih lama.

Pada orang yang metabolisme kafeinnya lebih lambat, efek kopi bisa bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat meningkatkan kemungkinan mengalami gangguan tidur, jantung berdebar, atau rasa gelisah setelah minum kopi.

Sebaliknya, orang yang memetabolisme kafein lebih cepat mungkin tidak merasakan efek berkepanjangan meskipun mengonsumsi kopi dalam jumlah serupa.

2. Kebiasaan Minum Kopi Membentuk Toleransi

Orang yang hampir setiap hari minum kopi terkadang tidak lagi merasakan efek yang sama seperti ketika pertama kali mengonsumsinya.

Baca Juga  Bahaya Minum Kopi Berlebihan Banyak Dialami Anak Muda, Jangan Anggap Sepele

Hal ini berkaitan dengan toleransi tubuh terhadap kafein.

Jika seseorang terbiasa mengonsumsi kafein, tubuh dapat beradaptasi sehingga respons terhadap dosis yang sama menjadi berkurang.

Akibatnya, sebagian orang membutuhkan kopi lebih banyak untuk mendapatkan sensasi segar atau peningkatan kewaspadaan seperti sebelumnya.

Sebaliknya, orang yang jarang minum kopi bisa merasakan efek kafein lebih kuat meskipun hanya mengonsumsi satu cangkir.

3. Kondisi Tubuh dan Kesehatan Ikut Berpengaruh

Respons terhadap kopi juga dapat dipengaruhi kondisi kesehatan seseorang.

Orang yang sensitif terhadap kafein mungkin lebih mudah mengalami jantung berdebar, kecemasan, atau gangguan pencernaan setelah minum kopi.

Kafein juga dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara, terutama pada orang yang tidak terbiasa mengonsumsinya.

Selain itu, kondisi seperti gangguan kecemasan dan masalah tidur dapat membuat efek stimulan kafein terasa lebih mengganggu.

Karena itu, jumlah kopi yang dapat ditoleransi seseorang belum tentu cocok bagi orang lain.

4. Usia dan Perubahan Hormon Dapat Mengubah Respons terhadap Kopi

Usia juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi cara tubuh merespons kafein.

Seiring bertambahnya usia, perubahan fungsi tubuh, pola tidur, dan penggunaan obat-obatan dapat memengaruhi respons seseorang terhadap kopi.

Perubahan hormon juga dapat berpengaruh. Pada perempuan, misalnya, kehamilan dapat memperlambat proses pengeluaran kafein dari tubuh.

Akibatnya, kafein dapat bertahan lebih lama dibandingkan kondisi sebelum kehamilan.

Inilah salah satu alasan mengapa toleransi seseorang terhadap kopi bisa berubah meskipun jenis dan jumlah kopi yang dikonsumsi tidak berbeda.

5. Jumlah dan Waktu Minum Kopi Menentukan Efeknya

Efek kopi tidak hanya ditentukan oleh karakteristik tubuh, tetapi juga jumlah serta waktu konsumsinya.

Baca Juga  Penyebab Perut Terasa Penuh Meski Makan Sedikit, Jangan Anggap Sepele

Minum kopi pada pagi hari mungkin tidak menimbulkan masalah bagi sebagian orang. Namun, konsumsi pada sore atau malam hari dapat mengganggu waktu tidur karena kafein masih berada di dalam tubuh selama beberapa jam.

Kandungan kafein setiap sajian juga tidak selalu sama. Jenis biji kopi, metode penyeduhan, ukuran gelas, dan tingkat konsentrasi minuman dapat menghasilkan kadar kafein yang berbeda.

Karena itu, dua orang yang sama-sama mengaku hanya minum satu gelas kopi belum tentu mengonsumsi kafein dalam jumlah setara.

Berapa Banyak Kopi yang Aman Dikonsumsi?

Bagi kebanyakan orang dewasa yang sehat, konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya dianggap masih dalam batas yang tidak menimbulkan efek berbahaya.

Namun, angka tersebut bukan berarti semua orang dapat mengonsumsi kafein sebanyak itu tanpa mengalami keluhan.

Orang yang sensitif terhadap kafein mungkin perlu membatasi konsumsinya lebih rendah. Perempuan hamil juga dianjurkan membatasi asupan kafein hingga 200 miligram per hari.

Jika setelah minum kopi muncul keluhan seperti jantung berdebar, gelisah, sakit kepala, atau sulit tidur, jumlah dan waktu konsumsi sebaiknya dievaluasi.

Perbedaan efek kopi merupakan hasil interaksi antara faktor genetik, metabolisme, kebiasaan, kondisi kesehatan, dan jumlah kafein yang dikonsumsi.

Itulah sebabnya satu cangkir kopi bisa membuat seseorang merasa lebih produktif, tetapi justru membuat orang lain tidak nyaman sepanjang hari.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Lili)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait