JurnalLugas.Com – Harga timah berjangka di London Metal Exchange (LME) mengalami penurunan sebesar 1,53 persen, mencapai level USD32.093 per ton pada Senin (13/5/2024).
Meski demikian, sepanjang Mei harga timah tetap berada di sekitar USD32.000 per ton, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dua tahun sebelumnya. Secara year on year (yoy), harga timah telah naik sebesar 26,81 persen.
Angka ini juga hampir 30 persen lebih tinggi dari tahun lalu, didorong oleh tingginya permintaan dan kekhawatiran akan pasokan yang menipis.
Indonesia, sebagai eksportir timah terbesar di dunia, telah menimbulkan gelombang ketatnya pasokan di pasar ekspor akibat penundaan perizinan yang menyebabkan ekspor hampir terhenti pada Januari.
Kondisi ini semakin diperburuk oleh kekhawatiran akan potensi gangguan perizinan di sisa tahun ini.
Situasi ini memperparah kemunduran produksi sebelumnya yang terutama disebabkan oleh gangguan pertambangan di Negara Bagian Wa, Myanmar, akibat konflik yang berlangsung di sana.
Upaya China untuk mendapatkan bijih timah dari Kongo juga terhambat oleh kerusuhan bersenjata yang mengganggu aktivitas penambangan di negara tersebut.
Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan tanda-tanda pemulihan permintaan di China, yang terlihat dari data PMI terbaru, serta spekulasi bullish jangka panjang untuk logam ini karena penggunaannya yang luas dalam produksi kecerdasan buatan (AI).
Akibatnya, persediaan timah di LME menurun hampir 40 persen tahun ini, menjadi 4.400 ton.






