JurnalLugas.Com – Berjaya Food Bhd, operator jaringan Starbucks di Malaysia, mengalami penurunan kinerja finansial pada kuartal keempat tahun ini. Perusahaan ini melaporkan kerugian bersih sebesar RM38,2 juta (sekitar USD8,8 juta) untuk periode tiga bulan yang berakhir pada Juni, berbalik dari laba sebesar RM17,28 juta yang dicatatkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah sentimen konsumen yang negatif terkait konflik Timur Tengah, yang berdampak langsung pada penurunan penjualan.
Sebagai bagian dari Berjaya Corporation Bhd, Berjaya Food menyatakan bahwa pendapatan turun lebih dari setengah, yang kemudian menyebabkan kerugian sebelum pajak pada kuartal tersebut. “Pendapatan yang jauh lebih rendah dan kerugian sebelum pajak yang terjadi pada kuartal yang sedang ditinjau saat ini terutama disebabkan oleh sentimen saat ini sehubungan dengan konflik di Timur Tengah,” demikian pernyataan resmi perusahaan dalam laporan keuangan yang dirilis pada Selasa, 27 Agustus 2024.
Merek-merek makanan cepat saji asal Amerika Serikat menghadapi tantangan serupa di beberapa wilayah, termasuk Asia, Timur Tengah, dan Eropa, di tengah seruan untuk memboikot produk mereka yang diduga terkait dengan Israel. Contohnya, McDonald’s menjadi sasaran boikot setelah munculnya gambar dan video yang menunjukkan bahwa gerai-gerainya di Israel memberikan makanan kepada tentara Israel pasca serangan pada 7 Oktober.
Secara keseluruhan, Berjaya Food mencatat kerugian bersih tahunan sebesar RM91,5 juta dengan penurunan pendapatan sebesar 35% untuk tahun fiskal yang berakhir pada Juni. Selain dampak konflik Timur Tengah, kerugian ini juga dipicu oleh kerugian satu kali akibat pelepasan seluruh kepemilikan saham di Jollibean Foods Pte Ltd pada November tahun lalu.
Pada akhir Juni 2023, Berjaya Food memiliki 393 gerai Starbucks di seluruh Malaysia, menurut laporan tahunan terbarunya. Selain itu, perusahaan ini juga mengelola restoran di bawah merek Kenny Rogers Roasters dan kafe Paris Baguette.
Dampak dari laporan keuangan yang negatif ini turut dirasakan di pasar saham, di mana saham Berjaya Food turun 13% pada Rabu, 28 Agustus 2024, mencapai level terendah sejak Februari 2022.






