JurnalLugas.Com – Harga batu bara mengalami penurunan cukup tajam pada perdagangan kemarin, mencatat penurunan hampir 1%. Pada Selasa (28/5/2024), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini ditutup di angka US$ 142 per ton, mengalami koreksi sebesar 0,91% dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Penurunan harga ini berkontribusi pada penurunan harga batu bara sebesar 0,56% secara point-to-point dalam seminggu terakhir.
Meski begitu, jika melihat pergerakan harga selama sebulan terakhir, harga batu bara masih menunjukkan kenaikan sebesar 3,35%.
Pekan lalu, harga batu bara sempat mengalami kenaikan selama empat hari berturut-turut. Pada Kamis (23/5/2024), harga mencapai US$ 144,9 per ton, yang merupakan level tertinggi sejak 8 Mei.
Kenaikan beruntun ini memicu investor untuk melakukan aksi ambil untung, yang akhirnya membuat harga batu bara sulit untuk terus naik dan malah mengalami penurunan.
Secara teknikal, dari perspektif harian (daily time frame), batu bara masih berada di zona bullish. Hal ini terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 86,52.
RSI di atas 50 menandakan bahwa suatu aset sedang berada dalam posisi bullish, namun RSI di atas 70 juga menjadi sinyal bahwa aset tersebut sudah jenuh beli (overbought).
Sinyal overbought ini semakin kuat dengan Stochastic RSI yang sudah menyentuh angka 100, menunjukkan kondisi yang sangat jenuh beli.
Dengan demikian, risiko penurunan harga batu bara masih cukup tinggi. Target support terdekat berada di angka US$ 136 per ton. Jika level ini ditembus, maka target berikutnya adalah US$ 124 per ton.
Sementara itu, target resistance terdekat adalah US$ 150 per ton. Jika level ini berhasil ditembus, harga batu bara berpotensi naik menuju US$ 154 per ton.






