JurnalLugas.Com – Harga batu bara mengalami sedikit penurunan pada perdagangan kemarin. Pada Rabu, 29 Mei 2024, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini ditutup di level US$ 142,1 per ton, turun 0,07% dari hari sebelumnya.
Penurunan ini mencerminkan tren yang berlangsung selama sepekan terakhir, di mana harga batu bara turun 0,59% secara point-to-point, serta penurunan sebesar 0,11% selama sebulan terakhir.
Penurunan harga batu bara ini terjadi di tengah sorotan negatif terkait kondisi cuaca ekstrem di berbagai negara, salah satunya di India yang mengalami gelombang panas ekstrem.
Suhu udara di New Delhi sempat mencapai 52,9 derajat Celsius, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Menurut Andrew Pershing, Wakil Presiden Climate Central, gelombang panas ini merupakan dampak dari perubahan iklim akibat tingginya emisi karbon dioksida dari pembakaran batu bara dan gas alam.
“Gelombang panas ini adalah dampak dari perubahan iklim. Ini karena terlalu banyak karbon dioksida dalam atmosfer, akibat kita terlalu banyak membakar batu bara dan gas alam. Sampai kita berhenti melakukannya, maka kita akan terus menambah beban yang dirasakan orang-orang di seluruh dunia,” tegas Pershing.
Secara teknikal, dengan analisis harian (daily time frame), harga batu bara masih berada di zona bullish, yang ditunjukkan oleh Relative Strength Index (RSI) sebesar 65,31.
RSI di atas 50 mengindikasikan bahwa aset ini sedang dalam posisi bullish. Namun, perlu diwaspadai bahwa indikator Stochastic RSI sudah mencapai angka 100, yang menunjukkan kondisi sangat jenuh beli (overbought).
Dengan kondisi ini, harga batu bara masih berisiko mengalami penurunan lebih lanjut. Target support terdekat diprediksi berada di level US$ 136 per ton.
Jika harga terus menurun dan menembus level ini, target berikutnya bisa mencapai US$ 124 per ton. Sebaliknya, jika harga batu bara berhasil menembus resisten terdekat di level US$ 150 per ton, ada potensi kenaikan menuju US$ 154 per ton.
Kesimpulannya, meskipun harga batu bara masih berada di zona bullish, risiko penurunan tetap ada mengingat kondisi pasar yang jenuh beli.
Pergerakan harga selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi teknikal dan faktor eksternal seperti cuaca ekstrem dan kebijakan lingkungan.
Pemantauan secara terus-menerus diperlukan untuk memahami dinamika pasar ini dan mengambil keputusan investasi yang tepat.






