JurnalLugas.Com – China telah mengajukan keluhan resmi kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai keputusan Uni Eropa untuk mengenakan tarif anti-subsidi pada mobil listrik asal China. Langkah ini memperburuk ketegangan yang sudah ada antara Beijing dan Brussels.
Pada Jumat, 9 Agustus 2024, Beijing melaporkan kasus ini kepada WTO melalui mekanisme penyelesaian sengketa, menurut pernyataan dari Kementerian Perdagangan China. Tujuan pengajuan ini adalah untuk melindungi hak dan kepentingan industri kendaraan listrik China, seperti yang dijelaskan oleh juru bicara kementerian.
Juru bicara tersebut menilai bahwa keputusan Uni Eropa berdasarkan data dan hukum yang tidak akurat. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut melanggar aturan WTO dan merusak upaya global dalam menangani perubahan iklim. China meminta Uni Eropa untuk segera memperbaiki keputusan tersebut dan bekerja sama untuk menjaga hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil antara China dan Uni Eropa serta rantai pasokan kendaraan listrik.
Hubungan antara Beijing dan Uni Eropa telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan kebijakan Uni Eropa yang semakin mirip dengan kebijakan Amerika Serikat. Bulan lalu, Uni Eropa memberlakukan tarif sementara pada impor mobil dari China yang dapat mencapai 48% setelah penyelidikan mengenai subsidi negara yang diterima produsen kendaraan listrik China.
China menanggapi langkah tersebut dengan keras, mengancam tindakan balasan terhadap produk pertanian dan industri penerbangan Eropa serta meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap industri minuman keras Prancis. Produsen mobil negara China, SAIC Motor Corp, dikenakan tarif tambahan sebesar 37,6% di atas tarif 10% yang berlaku, sementara Geely, pemilik Volvo Car AB, dan BYD Co dikenakan tarif tambahan sebesar 19,9% dan 17,4% masing-masing.
Sektor kendaraan listrik semakin terlibat dalam ketegangan perdagangan dan geopolitik seiring dengan peralihan dunia dari mesin pembakaran internal. China telah menjadi pemimpin global di sektor ini, sebagian besar karena investasi besar yang dilakukan setelah menyadari pentingnya kendaraan listrik bagi lingkungan dan ekonomi.
Selain itu, Amerika Serikat juga membatasi akses kendaraan listrik buatan China dengan mengenakan tarif lebih dari 100%, beralasan bahwa China membanjiri pasar global dengan barang-barang murah, terutama di industri hijau yang baru berkembang. Kanada saat ini juga sedang mempertimbangkan kebijakan serupa.
China telah mengajukan keluhan ke WTO mengenai subsidi yang diberikan AS untuk kendaraan listrik, mengklaim bahwa aturan tersebut diskriminatif. Pemerintah Biden menerapkan pembatasan yang membuat kendaraan dengan komponen baterai atau bahan mentah dari “entitas asing yang menjadi perhatian” tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit pajak pembelian hingga US$7.500.






