JurnalLugas.Com — Produsen kendaraan listrik asal China, XPeng, dikabarkan tengah menjajaki peluang besar untuk mengambil alih fasilitas produksi milik Volkswagen di kawasan Eropa. Langkah ini dinilai menjadi bagian dari strategi agresif perusahaan dalam memperkuat posisi di pasar kendaraan listrik global.
Pembicaraan tersebut mencuat dalam konferensi industri otomotif Future of the Car yang berlangsung akhir pekan lalu. Direktur pelaksana XPeng untuk wilayah Eropa timur laut, Elvis Cheng, mengungkapkan bahwa perusahaan sedang aktif berdiskusi dengan Volkswagen terkait kemungkinan akuisisi fasilitas manufaktur di Eropa.
Menurut Cheng, XPeng membutuhkan basis produksi yang lebih besar untuk memenuhi lonjakan permintaan kendaraan listrik di pasar internasional. Ia menyebut sejumlah pabrik lama milik Volkswagen dinilai memiliki tantangan teknis karena belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan produksi mobil listrik generasi terbaru.
“Beberapa fasilitas memang sudah berusia cukup lama dan perlu penyesuaian besar untuk memenuhi standar produksi kendaraan listrik modern,” ujarnya dalam forum industri tersebut.
Meski demikian, XPeng disebut tidak sepenuhnya bergantung pada negosiasi tersebut. Jika pembicaraan dengan Volkswagen tidak mencapai kesepakatan yang sesuai, perusahaan siap membangun fasilitas produksi baru secara mandiri di Eropa.
Langkah ekspansi itu muncul seiring melonjaknya penjualan kendaraan XPeng di luar China. Sepanjang April 2026, perusahaan tercatat mengekspor lebih dari 6.000 unit kendaraan listrik, naik signifikan dibandingkan bulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu.
Dalam empat bulan pertama 2026, pengiriman kendaraan listrik XPeng ke pasar luar negeri mencapai lebih dari 17 ribu unit. Angka itu memperlihatkan pertumbuhan kuat yang membuat kapasitas produksi perusahaan mulai mendekati batas maksimal.
Saat ini XPeng juga telah bekerja sama dengan Magna Steyr di Graz, Austria, untuk memproduksi SUV listrik G6 dan G9 bagi konsumen Eropa. Produksi sedan listrik terbaru mereka, P7+, juga telah menjalani tahap uji coba di fasilitas tersebut pada awal tahun ini.
Produksi langsung di Eropa dinilai menjadi strategi penting bagi produsen otomotif China untuk menghindari tingginya tarif impor kendaraan listrik yang diterapkan Uni Eropa. Tarif tambahan untuk mobil listrik buatan China diketahui dapat mencapai lebih dari 35 persen.
XPeng bukan satu-satunya perusahaan otomotif China yang membidik fasilitas produksi di Eropa. Rivalnya, BYD, juga dikabarkan tengah membuka pembicaraan dengan Stellantis dan sejumlah perusahaan otomotif Eropa lainnya guna memanfaatkan jalur produksi yang tidak lagi optimal.
Selain mengincar akuisisi fasilitas lama, BYD juga sedang mempercepat pembangunan pabrik kendaraan listrik baru di Hungary dan Turkey. Kedua fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi pusat produksi utama perusahaan untuk pasar Eropa dalam beberapa tahun ke depan.
Pengamat industri menilai ekspansi produsen otomotif China ke Eropa menunjukkan perubahan besar dalam persaingan industri kendaraan listrik global. Produsen asal Asia kini tidak hanya menjadi eksportir, tetapi juga mulai membangun rantai produksi langsung di jantung pasar otomotif Eropa.
Informasi berita otomotif dan ekonomi global lainnya dapat diakses melalui JurnalLugas.Com
(Tirta)






