JurnalLugas.Com – Dolar Singapura mencatatkan penguatan signifikan, mencapai level tertingginya dalam hampir satu dekade. Penguatan ini didorong oleh perbedaan kebijakan moneter antara Singapura dan Amerika Serikat, di mana Singapura terlihat lebih hawkish dibandingkan dengan Federal Reserve (The Fed).
Pada akhir perdagangan Jumat lalu, dolar Singapura mencapai level yang terakhir kali terlihat pada tahun 2014 terhadap dolar AS. Di awal perdagangan Senin, nilai tukar dolar Singapura stabil di sekitar 1,30 per dolar AS. Sepanjang tahun ini, mata uang Singapura telah mencatatkan kenaikan sekitar 1,5%, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia, setelah ringgit Malaysia.
Otoritas Moneter Singapura (MAS) yang menggunakan nilai tukar sebagai alat kebijakan moneternya, tetap mempertahankan kecenderungan penguatan mata uang pada pertemuan bulan Juli. Langkah ini dilakukan untuk mengendalikan laju inflasi yang terjadi di negara tersebut.
Di sisi lain, Gubernur The Fed, Jerome Powell, dalam pidatonya di simposium tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, menyatakan bahwa hampir dipastikan akan ada pemotongan suku bunga di AS bulan depan. Pernyataan ini menambah tekanan pada dolar AS, sementara mata uang lain seperti dolar Singapura mendapat dorongan positif.
Pemerintah Singapura juga telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini, dari 1%-3% menjadi 2%-3%. Perbaikan prospek ekonomi ini, yang didorong oleh permintaan eksternal yang kuat, dapat mendukung penguatan lebih lanjut bagi dolar Singapura.
Dengan perkembangan ini, dolar Singapura diperkirakan akan terus menunjukkan performa positif, didukung oleh kebijakan moneter yang ketat dan prospek ekonomi yang cerah.






