JurnalLugas.Com — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah koalisi aktivis pro-Palestina Global Sumud Flotilla (GSF) mengungkap seluruh kapal bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza telah dicegat pasukan Israel di perairan internasional.
Insiden itu memicu kecaman dari berbagai kelompok solidaritas internasional karena dinilai menghambat distribusi bantuan kemanusiaan bagi warga sipil Gaza yang masih menghadapi blokade berkepanjangan.
Dalam pernyataannya melalui Telegram pada Selasa, 19 Mei 2026, GSF menyebut seluruh armada yang ikut dalam misi pelayaran telah dihentikan secara paksa.
“Semua kapal sudah dicegat dan kami masih menunggu informasi terbaru mengenai para aktivis yang dibawa,” tulis koalisi tersebut.
Misi pelayaran kemanusiaan itu diketahui berangkat dari Barcelona, Spanyol, sejak 15 April 2026 dengan tujuan menembus blokade Gaza dan mengirimkan bantuan bagi warga Palestina.
Konvoi tersebut menjadi perhatian internasional karena melibatkan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara yang berupaya membawa bantuan logistik melalui jalur laut di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza.
Menurut keterangan aktivis, gangguan terhadap armada sebenarnya sudah terjadi sejak akhir April lalu. Mereka mengaku kapal sempat diambil alih di sekitar Pulau Kreta sebelum sistem navigasi dan mesin mengalami kerusakan.
Situasi kembali memanas pada Senin, 18 Mei 2026, ketika kapal bantuan dilaporkan dikepung kapal perang Israel sekitar 250 mil laut dari pesisir Gaza. Lokasi tersebut disebut berada di wilayah perairan internasional.
Aktivis menyebut pencegatan dilakukan secara paksa saat kapal masih berada jauh dari wilayah pantai Gaza. Hingga kini belum ada rincian resmi terkait jumlah awak maupun relawan yang diamankan.
Koalisi Global Sumud Flotilla sebelumnya mengumumkan misi laut terbaru mereka akan melibatkan sekitar 100 kapal dan lebih dari 2.000 peserta dari berbagai negara sebagai bentuk solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina.
Aksi tersebut disebut menjadi salah satu operasi sipil terbesar dalam beberapa tahun terakhir yang bertujuan menekan pembukaan akses kemanusiaan ke Gaza melalui jalur laut.
Blokade terhadap Gaza sendiri selama bertahun-tahun menjadi sorotan komunitas internasional karena dinilai memperburuk kondisi kemanusiaan warga sipil, terutama terkait akses pangan, obat-obatan, listrik, dan kebutuhan dasar lainnya.
Ketegangan terbaru ini diperkirakan kembali memicu tekanan diplomatik internasional terhadap Israel terkait kebijakan pengamanan laut dan akses bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
Informasi berita internasional lainnya dapat diakses di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






