JurnalLugas.Com — Komitmen sektor perbankan dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah terus menunjukkan tren positif pada 2026. PT Bank Sahabat Sampoerna melaporkan sebagian besar portofolio pembiayaannya kini difokuskan untuk sektor UMKM yang dinilai menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Hingga akhir Maret 2026, pembiayaan UMKM Bank Sampoerna tercatat mencapai 59 persen dari total pembiayaan sebesar Rp11 triliun. Capaian tersebut disebut menjadi indikator meningkatnya aktivitas usaha masyarakat sekaligus tingginya kebutuhan akses permodalan bagi pelaku usaha kecil.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, mengatakan pertumbuhan tersebut tidak lepas dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan dan strategi bisnis perusahaan.
“Kepercayaan masyarakat terus tumbuh seiring komitmen kami dalam mendukung sektor UMKM secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis 21 Mei 2026.
Kinerja positif itu juga didukung penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp15 triliun. Pertumbuhan dana murah atau CASA menjadi salah satu penopang utama, terutama dari peningkatan giro perusahaan dan tabungan nasabah.
Data perusahaan menunjukkan giro perusahaan naik signifikan menjadi Rp2,01 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,34 triliun. Sementara tabungan meningkat menjadi Rp1,43 triliun dari sebelumnya Rp1,31 triliun.
Secara keseluruhan, CASA Bank Sampoerna tumbuh hampir 30 persen secara tahunan. Menurut Henky, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan nasabah terhadap stabilitas dan pengelolaan operasional bank.
Ia menyebut efisiensi operasional dan tata kelola yang disiplin menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri perbankan nasional.
“Efisiensi dan pengelolaan risiko tetap menjadi fokus utama untuk memperkuat fundamental perusahaan,” katanya.
Dari sisi profitabilitas, Bank Sampoerna juga mencatat peningkatan laba bersih menjadi Rp8,9 miliar hingga kuartal pertama 2026. Angka tersebut tumbuh sekitar 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja keuangan perusahaan turut didukung kualitas aset yang tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah bersih atau NPL Net tercatat berada di level 2,70 persen hingga akhir Maret 2026.
Selain itu, kondisi permodalan dan likuiditas bank juga dinilai masih solid. Rasio kecukupan modal atau CAR tercatat sebesar 30,03 persen, sedangkan rasio pinjaman terhadap simpanan berada di level 73,27 persen.
Total aset Bank Sampoerna sendiri kini mencapai Rp19,5 triliun, menandakan pertumbuhan bisnis yang terus berlangsung di tengah kompetisi sektor jasa keuangan yang semakin ketat.
Sementara itu, CEO Bank Sampoerna, Ali Yong, mengatakan penguatan layanan digital menjadi strategi utama perusahaan untuk memperluas akses keuangan masyarakat.
Melalui kolaborasi berbasis layanan Bank as a Service (BaaS), perusahaan bekerja sama dengan puluhan fintech, multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya.
Kerja sama tersebut mencakup layanan virtual account, transaksi QRIS, hingga transfer dana host-to-host yang terus mengalami peningkatan transaksi sepanjang awal 2026.
“Kolaborasi digital menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan layanan keuangan kami,” ujarnya.
Sepanjang kuartal pertama 2026, layanan BaaS Bank Sampoerna disebut telah memproses lebih dari 495 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp98 triliun.
Pengamat ekonomi menilai tren peningkatan pembiayaan UMKM menunjukkan sektor usaha kecil masih menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam menjaga perputaran bisnis dan penyerapan tenaga kerja di berbagai daerah.
Baca berita ekonomi dan bisnis lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






