JurnalLugas.Com – Pada Selasa, 1 Oktober 2024, Israel mengalami serangan rudal besar-besaran dari Iran, yang melibatkan tembakan 180 rudal balistik dan hipersonik. Meskipun Amerika Serikat mengklaim sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, beberapa tetap mengenai target vital seperti sekolah, restoran, dan pangkalan militer. Insiden ini kembali mengundang perhatian mengenai efektivitas Iron Dome, sistem pertahanan udara andalan Israel yang beberapa kali telah “kebobolan.”
Apa Itu Iron Dome?
Iron Dome adalah sistem pertahanan udara yang dirancang khusus untuk melindungi Israel dari serangan rudal dan roket. Sejak 1948, Israel terlibat dalam berbagai konflik dengan negara-negara Arab dan mengembangkan beberapa sistem pertahanan, termasuk David’s Sling, Arrow 2, dan Arrow 3. Iron Dome, yang berfungsi mencegat roket jarak pendek, peluru, dan mortir, beroperasi dalam radius 4 hingga 70 kilometer.
Sistem ini bekerja dengan menggunakan radar untuk mendeteksi rudal yang masuk dan menentukan mana yang berpotensi menghancurkan. Rudal yang dianggap membahayakan akan dilawan dengan roket pencegat, sementara yang tidak berbahaya dibiarkan jatuh di area terbuka. Setiap baterai Iron Dome dilengkapi dengan tiga hingga empat peluncur, masing-masing berisi 20 rudal pencegat.
Sejarah Penciptaan Iron Dome
Iron Dome diciptakan sebagai respons terhadap serangan roket Hizbullah pada tahun 2006, di mana hampir 4.000 roket ditembakkan ke Israel, menyebabkan kehancuran besar. Perusahaan Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries, dengan dukungan dari Amerika Serikat, merancang Iron Dome, yang mulai beroperasi pada tahun 2011. Sejak saat itu, Israel mengklaim bahwa sistem ini telah berhasil mencegat puluhan ribu roket, meskipun insiden baru-baru ini menunjukkan bahwa sistem ini tidak selalu efektif terhadap teknologi rudal yang semakin canggih.
David’s Sling: Pelengkap Pertahanan Israel
Selain Iron Dome, Israel mengandalkan sistem David’s Sling, yang mampu menangkal rudal dengan jangkauan hingga 300 kilometer. Dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems dan Raytheon dari AS, David’s Sling mulai beroperasi pada tahun 2017. Sistem ini mampu menghadapi berbagai ancaman, termasuk pesawat tak berawak dan rudal jelajah.
Arrow 2 dan Arrow 3: Sistem Pertahanan Berteknologi Tinggi
Untuk menghadapi ancaman rudal balistik jarak jauh, Israel memiliki Arrow 2 dan Arrow 3. Arrow 2 dirancang untuk menghancurkan rudal balistik jarak pendek hingga menengah, beroperasi pada ketinggian 50 kilometer dan mulai berfungsi pada tahun 2000. Sementara itu, Arrow 3, yang mulai dioperasikan pada 2017, dirancang untuk menghancurkan rudal balistik jarak jauh dengan jangkauan hingga 2.400 kilometer.
Kedua sistem ini, bersama dengan Iron Dome dan David’s Sling, membentuk sistem pertahanan multilayer Israel yang bertujuan melindungi negara dari berbagai ancaman rudal yang semakin berkembang.
Insiden serangan rudal terbaru dari Iran kembali menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh sistem pertahanan Israel. Meskipun Iron Dome dan sistem lainnya telah berhasil menghalau banyak serangan, perkembangan teknologi rudal yang semakin maju menunjukkan bahwa tidak ada sistem pertahanan yang sepenuhnya aman. Israel terus berupaya meningkatkan kapabilitas pertahanannya untuk melindungi warganya dari ancaman yang terus berkembang.






