JurnalLugas.Com – Sebanyak 10 saham mengalami tekanan jual yang signifikan sepanjang pekan 18-22 November 2024. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dua emiten, yakni PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), mencatatkan kinerja saham terburuk minggu ini, masing-masing menduduki posisi pertama dan kedua dalam daftar top losers.
Penurunan Drastis Saham PZZA
PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pengelola waralaba Pizza Hut, mencatatkan penurunan terbesar sebesar 23,08 persen. Sahamnya anjlok dari Rp169 menjadi Rp130 per lembar, bahkan sempat menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir di Rp117 per saham. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan besar pada saham emiten makanan dan minuman tersebut, kemungkinan dipengaruhi oleh kinerja keuangan atau sentimen pasar yang negatif.
MLPT: Saham Lippo Group Ikut Tertekan
Posisi kedua diisi oleh PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), salah satu perusahaan di bawah Lippo Group, yang mencatatkan penurunan harga saham sebesar 21,94 persen. Saham MLPT turun dari Rp32.025 menjadi Rp25.000, dengan total transaksi mencapai Rp47,22 miliar dalam sepekan dan volume perdagangan sebesar 1,75 juta saham.
Daftar Saham Lain yang Melemah
Selain PZZA dan MLPT, delapan saham lainnya juga mengalami koreksi signifikan. Berikut daftar lengkap saham top losers pekan ini:
- PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA): Turun 23,08% ke Rp130 dari Rp169.
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT): Turun 21,94% ke Rp25.000 dari Rp32.025.
- PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN): Turun 14,75% ke Rp104 dari Rp122.
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ): Turun 14,57% ke Rp2.990 dari Rp3.500.
- PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD): Turun 13,78% ke Rp3.440 dari Rp3.990.
- PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG): Turun 13,56% ke Rp765 dari Rp885.
- PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP): Turun 13,10% ke Rp995 dari Rp1.145.
- PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI): Turun 13,08% ke Rp565 dari Rp650.
- PT Homeco Victoria Makmur Tbk (LIVE): Turun 12,95% ke Rp195 dari Rp224.
- PT Multitrend Indo Tbk (BABY): Turun 12,72% ke Rp302 dari Rp346.
Analisis dan Sentimen Pasar
Tekanan jual yang dialami saham-saham ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti laporan keuangan yang kurang memuaskan, fluktuasi ekonomi, hingga kondisi makroekonomi global. Investor perlu mencermati fundamental emiten dan tren pasar sebelum mengambil keputusan investasi untuk mengantisipasi potensi kerugian lebih lanjut.






