JurnalLugas.Com – Pada Senin, 20 Januari 2025, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), dan PT Victoria Investama Tbk (VICO) mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini sejalan dengan pengumuman rencana akuisisi 100 persen saham PT Bank Victoria Syariah (BVIS) oleh BTN, yang menjadi bagian dari langkah spin-off unit usaha syariah BTN, yaitu BTN Syariah.
Kinerja Saham yang Meningkat
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 11.12 WIB, saham BBTN naik 1,38 persen menjadi Rp1.100 per saham dengan nilai transaksi Rp16,81 miliar. Dalam sepekan terakhir, saham BBTN tercatat menguat 2,31 persen, meski dalam satu bulan terakhir mengalami koreksi sebesar 1,78 persen.
Saham BVIC melambung 10,75 persen menjadi Rp103 per saham, sementara saham VICO meningkat 3,42 persen. Dalam sepekan, BVIC mencatat kenaikan 15,73 persen, sedangkan VICO naik 9,01 persen.
Detail Akuisisi BTN terhadap BVIS
BTN secara resmi menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement/CSPA) dengan para pemegang saham BVIS pada Rabu, 15 Januari 2025. Dalam kesepakatan tersebut, BTN akan mengambil alih seluruh saham BVIS, dengan nominal total akuisisi mencapai Rp1,06 triliun.
Pemegang saham utama BVIS saat ini adalah PT Victoria Investama Tbk (VICO) dengan kepemilikan 80,2 persen, disusul PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) sebesar 19,8 persen.
Langkah Strategis BTN
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa akuisisi ini merupakan bagian dari rencana BTN untuk membentuk bank umum syariah melalui strategi anorganik. Setelah proses akuisisi selesai, BTN akan memisahkan unit usaha syariahnya, BTN Syariah, dan menggabungkannya dengan BVIS untuk membentuk bank umum syariah yang baru.
Langkah ini dilakukan sesuai dengan regulasi yang mewajibkan pemisahan unit usaha syariah dari bank konvensional jika nilai aset mencapai 50 persen dari total aset induknya atau minimal Rp50 triliun. Berdasarkan data per kuartal III-2024, aset BTN Syariah telah mencapai Rp58 triliun.
Prospek Bisnis Syariah BTN dan BVIS
BTN optimistis bahwa langkah ini akan memperkuat posisi BTN Syariah di pasar keuangan syariah Indonesia. Dengan proyeksi aset setelah spin-off mencapai Rp66 triliun–Rp67 triliun, BTN berharap dapat meningkatkan daya saingnya di sektor perbankan syariah.
Sementara itu, BVIS dinilai sebagai mitra yang tepat karena memiliki basis bisnis yang stabil dan terus bertumbuh. Per kuartal III-2024, aset BVIS tercatat sebesar Rp3,32 triliun, naik 8,02 persen secara tahunan.
Proyeksi Penyelesaian Akuisisi
BTN menargetkan proses akuisisi ini selesai sebelum akhir semester I-2025. Nixon menyebutkan bahwa spin-off BTN Syariah menjadi bank umum syariah diharapkan dapat rampung tahun ini.
Selama proses ini berlangsung, operasional BTN Syariah tetap berjalan normal hingga transformasi formal menjadi bank umum syariah selesai.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan ekonomi dan bisnis terkini, kunjungi JurnalLugas.Com.






