JurnalLugas.Com – Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Marga Taufiq, menekankan pentingnya menjaga kualitas gabah agar proses pengolahan di sentra penggilingan padi dapat berjalan lebih cepat dan efisien. Menurutnya, gabah dengan kualitas rendah tidak hanya memperlambat proses pengolahan tetapi juga berdampak pada penyimpanan dan distribusi cadangan pangan pemerintah.
Dampak Kualitas Gabah terhadap Pengolahan dan Penyimpanan
Marga menjelaskan bahwa gabah berkualitas rendah membutuhkan perlakuan khusus dan waktu lebih lama dalam pengolahannya. Hal ini dapat memperlambat rantai pasok serta meningkatkan biaya operasional. Selain itu, gabah dengan mutu rendah akan lebih sulit disimpan dalam gudang dalam jangka waktu lama, yang berpotensi mengganggu distribusi beras kepada masyarakat.
“Kalau gabahnya kurang bagus, tentu tidak bisa disimpan lama di dalam gudang. Ini juga berpengaruh pada proses distribusi ke masyarakat,” ujar Marga pada Sabtu, 22 Maret 2025.
Upaya Pemerintah dalam Penyerapan Gabah Petani
Bulog telah ditugaskan untuk mempercepat serapan gabah kering panen (GKP) dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini bertujuan memastikan petani mendapatkan harga yang layak tanpa adanya potongan yang merugikan mereka.
Pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp16,6 triliun kepada Perum Bulog. Investasi ini dimaksudkan agar Bulog dapat membeli gabah petani secara langsung dan memastikan harga tetap stabil.
Sentra Padi di Indonesia dan Komitmen Bulog
Selain Pulau Jawa sebagai lumbung pangan nasional, beberapa wilayah lain seperti Sulawesi Selatan, NTB, Sumatera Selatan, Lampung, dan Sumatera Utara juga menjadi daerah sentra produksi padi. Bulog bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah untuk memastikan proses serapan gabah berjalan optimal di seluruh Indonesia.
Hingga Maret 2025, Bulog telah menyerap lebih dari 400 ribu ton gabah setara beras untuk menjaga stabilitas cadangan beras pemerintah (CBP). Strategi jemput bola dengan turun langsung ke lapangan juga terus dilakukan guna mempercepat penyerapan gabah dari petani.
Edukasi Petani Demi Kualitas Gabah yang Lebih Baik
Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Prita Laura, menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto terus berupaya memperkuat sektor pertanian demi mencapai swasembada pangan. Ia menekankan pentingnya edukasi kepada petani agar mereka tidak menjual gabah sebelum mencapai tingkat kematangan optimal.
Menurutnya, jika petani terburu-buru menjual gabah sebelum panen yang tepat, maka akan muncul kendala seperti proses pengeringan yang lebih lama dan tingkat susut hasil yang lebih tinggi.
“Kita harapkan petani benar-benar menjaga kualitas gabah yang dijual. Jangan mentang-mentang harga pembelian Rp6.500 per kg, lalu yang dijual adalah gabah basah,” ujar Prita.
Kualitas gabah yang baik merupakan faktor utama dalam menjaga efisiensi pengolahan, penyimpanan, dan distribusi beras. Dengan kebijakan serapan gabah oleh Bulog serta edukasi kepada petani, diharapkan Indonesia dapat mencapai ketahanan pangan yang lebih kuat. Komitmen pemerintah dalam menetapkan harga pembelian yang layak juga menjadi langkah positif untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca berita lainnya di: Jurnal Lugas






