Bursa Saham Kuwait-Qatar-Oman Bergerak Terbatas Investor Waspadai Dampak Serangan AS ke Iran

JurnalLugas.Com — Bursa saham di kawasan Teluk seperti Kuwait, Qatar, dan Oman diperdagangkan dalam kisaran sempit pada Minggu, 22 Juni 2025. Hal ini mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap eskalasi ketegangan geopolitik usai serangan mendadak Amerika Serikat ke situs nuklir Iran.

Kekhawatiran utama pasar adalah kemungkinan gangguan pasokan minyak dan potensi aksi balasan dari Teheran. Meski begitu, sebagian pelaku pasar menilai, ada saham-saham yang justru bisa diuntungkan dari lonjakan harga minyak atau meningkatnya permintaan sektor pertahanan, membuat reaksi awal pasar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi yang mendalam.

Bacaan Lainnya

Indeks Bursa Bergerak Bervariasi

Indeks Pasar Perdana Bursa Kuwait sempat melemah, namun berhasil berbalik arah dan menguat 0,4% pada pukul 10:39 waktu Dubai. Sementara itu, indeks MSX30 di Muscat, Oman terkoreksi 0,5%. Di Qatar, indeks utama turun 0,3%. Pasar saham Israel dan Arab Saudi belum dibuka saat laporan ini disusun, dan dijadwalkan akan memulai perdagangan pada pukul 11.00 waktu setempat.

Meski pergerakan awal tampak tenang, para analis menilai situasi geopolitik masih sangat dinamis, sehingga volatilitas pasar bisa meningkat dalam waktu singkat tergantung perkembangan di lapangan.

Baca Juga  Trump Vs Macron Soal Iran Dunia Terbelah Perang Jangan Ulangi Irak 2003

Risiko Balasan Iran dan Respons Global

Langkah Presiden AS, Donald Trump, yang memerintahkan serangan ke fasilitas nuklir Iran tanpa konsultasi dengan Kongres, mengejutkan pasar. Trump sebelumnya sempat memberi sinyal akan mempertimbangkan langkah tersebut dalam dua minggu ke depan, namun ternyata keputusan diambil lebih cepat. Kini perhatian global tertuju pada bagaimana Iran akan merespons.

“Dalam jangka pendek, pasar seperti minyak mentah akan sangat bergantung pada apakah Iran akan membalas dan memperluas konflik dengan cara yang mempengaruhi pasokan minyak, atau justru memilih meredakan ketegangan,” ujar Hasnain Malik, analis strategi dari Tellimer di Dubai.

Ia menambahkan, skenario terburuk yang ditakutkan adalah jika rezim Iran kolaps dan negara tersebut terjerumus dalam konflik internal seperti yang terjadi di Suriah, yang berpotensi menimbulkan intervensi asing berskala besar.

Iran sendiri telah mengancam akan memberikan “konsekuensi abadi” atas serangan AS. Spekulasi berkembang bahwa Teheran dapat menargetkan pangkalan militer AS di Timur Tengah, fasilitas nuklir Israel dekat Dimona, atau mempercepat program nuklir mereka sendiri.

Baca Juga  Iran Tak Akan Pernah Menyerah ke AS Khamenei Klaim Menang Usai Serang Pangkalan AS di Qatar

Harapan Pasar Mulai Luntur

Selama dua pekan terakhir, banyak investor mencoba bertahan dengan harapan konflik terbatas dan tidak meluas hingga menyeret AS lebih jauh. Namun serangan ini tampaknya telah mengubur harapan tersebut. Terlebih, Trump menyatakan bahwa serangan bisa berlanjut jika Iran memilih jalan pembalasan.

Di tengah situasi yang masih bergolak ini, para pengelola dana dan pelaku pasar global terus mencermati apakah Selat Hormuz jalur strategis ekspor minyak dunia akan tetap aman, atau justru menjadi pusat konflik berikutnya.

Perkembangan situasi ini akan sangat menentukan arah pergerakan pasar komoditas dan ekuitas global, serta menempatkan Timur Tengah kembali sebagai episentrum ketegangan geopolitik dunia.

Pantau terus perkembangan geopolitik dan dampaknya terhadap pasar hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait