JurnalLugas.Com – Perkembangan terbaru muncul dari kawasan Timur Tengah setelah Iran dan Oman dikabarkan hampir menuntaskan kesepakatan baru mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Kesepakatan tersebut dipandang sebagai langkah penting untuk menciptakan tata kelola pelayaran yang lebih jelas di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, Teheran menegaskan bahwa kesepahaman tersebut belum berarti Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya bagi seluruh aktivitas pelayaran internasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, mengatakan Iran dan Oman telah mencapai kesepahaman prinsip atas hampir seluruh poin pembahasan setelah melakukan konsultasi intensif selama lebih dari tiga pekan.
Menurutnya, pembahasan mencakup berbagai aspek teknis, termasuk penetapan jalur masuk dan keluar kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyebut proses finalisasi berlangsung konstruktif dengan tujuan menciptakan mekanisme pelayaran yang lebih teratur.
“Secara prinsip, hampir seluruh isu utama telah disepakati, termasuk pengaturan rute pelayaran,” kata Gharibabadi seperti dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA, Rabu (5/8/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak otomatis membuka kembali akses pelayaran secara penuh. Iran masih mengaitkan implementasi kebijakan tersebut dengan perkembangan hubungan diplomatik serta pelaksanaan komitmen yang dinilai harus dipenuhi oleh Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, Gharibabadi juga membantah berbagai spekulasi mengenai adanya proses negosiasi langsung antara Teheran dan Washington.
Menurutnya, Iran memang menerima pesan dari Amerika Serikat yang menyatakan kesiapan untuk kembali menjalankan komitmen sebagaimana tertuang dalam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) perdamaian yang disepakati pada Juni lalu.
Namun, pemerintah Iran menegaskan bahwa pernyataan tersebut belum cukup menjadi dasar untuk mengubah kebijakan yang saat ini diterapkan di Selat Hormuz.
Sumber yang dekat dengan tim perunding Iran, sebagaimana dikutip kantor berita Fars, menyebut pembukaan kembali jalur pelayaran secara penuh masih sangat bergantung pada langkah konkret Amerika Serikat dalam memenuhi komitmen yang telah disampaikan.
Sumber tersebut juga menepis anggapan bahwa keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap sebuah maskapai penerbangan Irak memiliki kaitan langsung dengan implementasi nota kesepahaman antara Iran dan AS.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan internasional karena menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju berbagai negara di dunia.
Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut kerap memengaruhi harga energi global serta meningkatkan kekhawatiran pasar internasional.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026. Saat itu, Teheran memberlakukan pembatasan terhadap kapal-kapal yang dimiliki atau memiliki afiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas meningkatnya konflik di kawasan.
Kebijakan tersebut kemudian memicu eskalasi yang lebih luas. Amerika Serikat melancarkan sejumlah serangan terhadap sasaran militer di Iran dengan alasan melindungi jalur pelayaran internasional dan mengurangi kemampuan Iran mengganggu aktivitas kapal dagang.
Iran tidak tinggal diam. Pemerintah di Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah pangkalan serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Rangkaian aksi saling serang tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap potensi terganggunya pasokan energi global.
Analis hubungan internasional menilai kesepakatan yang sedang difinalisasi Iran dan Oman menjadi sinyal adanya upaya membuka ruang diplomasi di tengah situasi yang masih sensitif. Namun, implementasi di lapangan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Iran dengan Amerika Serikat serta dinamika keamanan regional.
Bagi pasar internasional, setiap perkembangan di Selat Hormuz memiliki dampak yang luas. Selain memengaruhi perdagangan minyak dunia, stabilitas kawasan juga menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan harga energi, biaya logistik, hingga sentimen investor global.
Dengan masih berlangsungnya proses diplomatik dan belum adanya keputusan final mengenai pembukaan penuh jalur pelayaran, perhatian dunia diperkirakan akan tetap tertuju pada langkah lanjutan Iran, Oman, dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu mendatang.
Ikuti berita internasional, geopolitik, ekonomi global, dan perkembangan terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
https://JurnalLugas.Com
(Dahlan)






