JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melancarkan kritik tajam terhadap media pada Jumat, 27 Juni 2025. Ia mengecam laporan yang menyebut dirinya mendukung pemberian bantuan sebesar 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp48,6 triliun kepada Iran untuk membangun fasilitas nuklir nonmiliter.
“Siapa bajingan di Media Berita Palsu yang mengatakan bahwa ‘Presiden Trump ingin memberikan 30 miliar dolar AS kepada Iran untuk membangun fasilitas nuklir nonmiliter’?” tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya.
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak pernah ada dalam wacana kebijakan pemerintahannya. “Tidak pernah ada ide konyol ini. Ini hanya tipuan lain yang dikeluarkan oleh berita palsu untuk merendahkan. Orang-orang ini sakit!!!” tulisnya dengan nada penuh amarah.
Laporan yang membuat Trump geram itu menyebut bahwa pihak Gedung Putih tengah mempertimbangkan pemberian insentif ekonomi kepada Teheran. Tiga sumber yang memahami diskusi tersebut menyebutkan, insentif itu bisa berupa pencairan aset Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas penghentian program pengayaan uranium.
Namun di tengah kabar insentif, justru ketegangan militer di kawasan meningkat. Pada 22 Juni lalu, militer AS dilaporkan menjatuhkan enam bom penghancur bunker di situs nuklir Fordow. Selain itu, puluhan rudal jelajah dari kapal selam diarahkan ke dua fasilitas lainnya di Natanz dan Isfahan—semuanya merupakan bagian dari upaya menghentikan ambisi nuklir Iran.
Ironisnya, langkah militer ini dilakukan menjelang perundingan putaran keenam antara AS dan Iran yang sejatinya dijadwalkan berlangsung pada 15 Juni. Namun serangan udara Israel pada 13 Juni terhadap berbagai target strategis di Iran, termasuk situs militer dan sipil, membuat atmosfer diplomasi berubah drastis.
Konflik yang berlangsung selama 12 hari antara Iran dan Israel akhirnya dihentikan lewat gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Kesepakatan gencatan itu mulai berlaku efektif sejak 24 Juni.
Ketegangan antara ketiga pihak kini memasuki babak baru, dengan opini publik yang kian terpecah terkait langkah-langkah Trump maupun masa depan hubungan nuklir Iran.
Selengkapnya kunjungi JurnalLugas.Com untuk berita politik dan dunia terkini.






