JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menarik perhatian publik internasional usai melontarkan sindiran tajam terhadap aliansi ekonomi BRICS. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa kelompok tersebut tengah mengalami kemunduran dan tak lagi relevan secara strategis. Ia bahkan mengancam akan menerapkan tarif sebesar 10 persen guna melindungi dominasi dolar AS di pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah forum ekonomi di Florida, Jumat (18/7/2025) waktu setempat. Menurut Trump, langkah-langkah perlindungan ekonomi semacam itu diperlukan untuk menjaga kekuatan fundamental Amerika Serikat dalam menghadapi tantangan global.
“BRICS bukanlah ancaman. Itu hanya kelompok kecil yang sedang memudar cepat. Kita harus kenakan tarif 10 persen demi mempertahankan dominasi dolar,” ucap Trump dalam pernyataannya, dikutip dari media.
Kelompok BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan belakangan memperluas jaringan ke beberapa negara baru seperti Mesir, Ethiopia, dan Iran. Meski demikian, Trump menganggap ekspansi tersebut sebagai tanda kelemahan, bukan kekuatan.
Sejumlah pengamat menilai retorika ini sebagai sinyal bahwa Trump akan kembali menerapkan kebijakan proteksionisme ekonomi jika memenangkan pemilu presiden mendatang. Ancaman tarif 10 persen itu dinilai berpotensi memicu ketegangan dagang baru, terutama dengan negara-negara seperti Tiongkok dan India yang memiliki pengaruh besar dalam BRICS.
Seorang pakar hubungan internasional dari universitas terkemuka di AS menilai bahwa pernyataan Trump berisiko menciptakan ketidakstabilan dalam sistem perdagangan dunia.
“Kebijakan seperti ini bisa memicu perang dagang baru dan merusak arsitektur keuangan global yang sedang rapuh,” ujar pakar tersebut kepada media.
Sementara itu, pihak Gedung Putih belum mengeluarkan tanggapan resmi. Namun sumber internal pemerintahan menyebutkan bahwa pihaknya masih berpegang pada prinsip kerja sama internasional dan stabilitas mata uang global.
Sebagai catatan, dominasi dolar AS saat ini memang sedang mendapat tekanan dari berbagai skema transaksi internasional yang mulai mengadopsi mata uang lokal. Hal inilah yang diyakini mendorong Trump untuk kembali menggencarkan kebijakan ekonomi nasionalis sebagai bentuk perlindungan pasar domestik AS.
Trump sendiri selama ini dikenal sebagai tokoh yang vokal terhadap globalisasi dan lebih memilih pendekatan ekonomi bilateral yang dianggapnya lebih menguntungkan bagi negaranya.
Untuk perkembangan terbaru dunia politik dan ekonomi global, kunjungi JurnalLugas.Com.






