JurnalLugas.Com – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Jumat (22/8/2025) memastikan bahwa tidak ada rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Penegasan itu disampaikan hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa dirinya tengah mengatur pertemuan antara kedua pemimpin yang telah terlibat perang lebih dari tiga tahun.
“Tidak ada pertemuan yang direncanakan,” kata Lavrov, singkat dalam konferensi pers di Moskow.
Trump Dorong Dialog, Rusia Ragu
Trump melalui unggahan di media sosial awal pekan ini menyebut telah berbicara langsung dengan Putin. Ia bahkan menegaskan tengah menyiapkan langkah teknis agar pertemuan Putin dan Zelensky bisa digelar di lokasi yang masih belum ditentukan. Trump juga mengklaim dirinya siap hadir dalam format trilateral setelah pertemuan utama berlangsung.
Namun, sinyal berbeda datang dari Moskow. Lavrov sehari sebelumnya menegaskan, Putin tidak menutup pintu bertemu Zelensky, tetapi dengan syarat pembicaraan awal dilakukan oleh pejabat senior untuk merumuskan isu-isu pokok. Menurutnya, tanpa proses itu, pertemuan tingkat presiden tidak akan menghasilkan kesepakatan nyata.
“Proses ini tidak bisa instan karena masih banyak perbedaan besar antara kedua pihak,” ujar Lavrov.
Tuntutan Ukraina dan Keberatan Rusia
Kiev tetap pada sikapnya: meminta jaminan keamanan penuh dari negara-negara Barat agar Rusia tidak lagi melakukan serangan setelah perang berakhir. Sejumlah pejabat AS dan Uni Eropa kini tengah menyusun proposal rinci terkait mekanisme jaminan itu.
Namun Lavrov menilai upaya Barat menyiapkan jaminan keamanan tanpa melibatkan Moskow tidak akan pernah berhasil. “Tanpa Rusia, pembicaraan semacam itu sia-sia,” tegasnya.
Serangan Rusia Berlanjut
Sementara itu, serangan besar Rusia menggunakan rudal dan drone kembali menghantam berbagai wilayah Ukraina pada Kamis lalu. Salah satu target adalah pabrik elektronik milik perusahaan Amerika Serikat. Padahal, Trump sebelumnya mengkritik Putin yang dinilai terus menggempur Ukraina meski wacana dialog damai tengah digulirkan.
Zelensky menanggapi keras situasi itu. Dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Kyiv, ia menyebut Rusia sengaja mencari alasan untuk menghindari pertemuan.
“Rusia berusaha melakukan apa saja untuk menghindari pertemuan. Masalahnya bukan pada forum KTT itu sendiri, melainkan karena mereka tidak ingin mengakhiri perang,” kata Zelensky.
Menurutnya, persatuan antara AS dan Eropa menjadi kunci mempersempit ruang manuver Rusia. “Ruang untuk menghindar ini harus dipersempit. Persatuan AS dan Eropa akan memperkecil ruang tersebut,” lanjutnya.
NATO dan AS Dorong Jaminan Keamanan
Sekjen NATO Mark Rutte menyampaikan bahwa Trump ingin “memecah kebuntuan” dan melibatkan AS secara langsung dalam pemberian jaminan keamanan bagi Ukraina.
“Presiden Trump telah menjadikan hal ini sebagai prioritas,” ujar Rutte. Ia menambahkan bahwa rancangan jaminan keamanan yang sedang dibahas memiliki dua lapisan.
Pertama, jika tercapai kesepakatan damai atau gencatan senjata jangka panjang, fokus utama adalah memperkuat kemampuan militer Ukraina secara signifikan. Kedua, memberikan komitmen keamanan dari negara-negara Eropa serta AS untuk memastikan stabilitas jangka panjang.
Bayang-Bayang Ketidakpastian
Pernyataan Lavrov menunjukkan bahwa jalan menuju perundingan perdamaian masih panjang dan berliku. Meski ada dorongan kuat dari Trump dan dukungan NATO, Moskow tetap menekankan bahwa semua mekanisme harus melibatkan Rusia sejak tahap awal.
Sementara itu, Ukraina dan Barat terus menekan agar jaminan keamanan segera diformulasikan. Situasi ini membuat masa depan perundingan Putin-Zelensky masih dipenuhi tanda tanya, dengan pertempuran yang tetap berlangsung di berbagai lini.
Baca berita politik internasional lainnya di JurnalLugas.Com






