JurnalLugas.Com — Kepolisian Serbia menangkap 11 orang yang diduga terlibat dalam aksi vandalisme bernuansa anti-Yahudi dan anti-Muslim di sejumlah negara Eropa. Mereka dituding menebar kebencian, termasuk dengan menaruh kepala babi di depan masjid-masjid di wilayah Paris, Prancis, pada awal September 2025.
Kementerian Dalam Negeri Serbia menyampaikan, operasi penangkapan dilakukan di Beograd dan Velika Plana dengan dukungan aparat keamanan nasional. Sementara itu, seorang tersangka ke-12 masih buron dan diduga melatih kelompok tersebut berdasarkan arahan intelijen asing.
“Tujuan mereka juga untuk menyebarkan ide yang mendorong kebencian, diskriminasi, dan kekerasan berdasarkan perbedaan,” bunyi pernyataan resmi kementerian, Selasa (30/9).
Aksi di Prancis dan Jerman
Investigasi di Prancis dimulai sejak awal September setelah sembilan kepala babi ditemukan di luar masjid di Paris dan sekitarnya. Peristiwa itu memicu kecaman luas karena dianggap sebagai serangan yang sangat ofensif terhadap umat Islam.
Antara April hingga September, kelompok yang sama dituduh merusak Monumen Holocaust, sinagoga, dan sebuah restoran Yahudi dengan lemparan cat hijau. Mereka juga menempelkan stiker antisemit bernada genosida, bahkan sebagian aksi disertai tulisan nama Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Tak hanya di Prancis, jaringan ini juga disinyalir beraksi di Jerman. Salah satunya dengan meninggalkan kerangka beton berisi pesan provokatif di Gerbang Brandenburg, Berlin.
Dugaan Keterlibatan Aktor Asing
Pihak berwenang Prancis sebelumnya telah membuka sejumlah penyelidikan terkait aksi vandalisme ini. Sejumlah bukti mengarah pada dugaan keterlibatan aktor asing, dengan Moskow kerap menjadi sorotan. Pada September lalu, poster bergambar tentara Rusia dengan tulisan “Ucapkan terima kasih kepada prajurit Soviet yang menang” ditemukan menempel di Arc de Triomphe.
Seorang warga Serbia yang lebih dulu ditangkap di Prancis juga diduga melakukan aksi tersebut demi melayani kepentingan kekuatan asing. Penangkapan terbaru di Serbia dipandang sebagai bagian dari penyelidikan lebih luas terkait kampanye terkoordinasi yang menargetkan komunitas Yahudi dan Muslim di Eropa.
Ancaman Dakwaan Berat
Kementerian Dalam Negeri Serbia menegaskan, para tersangka akan dihadapkan ke jaksa dengan dakwaan termasuk diskriminasi rasial hingga spionase.
Sebagai catatan, Prancis merupakan rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di luar Israel dan Amerika Serikat, sekaligus salah satu populasi Muslim terbesar di Eropa. Kondisi ini menjadikan negara tersebut rawan menjadi sasaran provokasi kelompok ekstremis.
Baca berita di: JurnalLugas.Com






