JurnalLugas.Com – Gubernur California, Gavin Newsom, melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan iklim Amerika Serikat di bawah mantan Presiden Donald Trump, yang menurutnya telah melemahkan komitmen global terhadap penanganan perubahan iklim.
Dalam pidatonya di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30) di kota Belem, Brasil, Newsom menyebut langkah pemerintahan Trump yang menarik AS dari Perjanjian Paris sebagai tindakan “tidak bijak dan merugikan masa depan bangsa.”
“Kita boleh berbeda pandangan, tapi tidak ada alasan untuk menutup mata terhadap krisis iklim. Amerika bisa berbuat salah, tapi California tidak akan ikut bodoh dalam hal ini,” ujar Newsom dalam pidatonya di hadapan para delegasi, Selasa (11/11/2025).
California Tunjukkan Kepemimpinan Hijau
Newsom menegaskan bahwa California tetap berkomitmen menjadi pelopor energi bersih di tengah kebijakan federal yang kerap berlawanan. Ia menyebut sekitar dua pertiga kebutuhan listrik California kini berasal dari energi terbarukan, dan negara bagian itu menargetkan netral karbon pada tahun 2045.
“Ini bukan hanya soal tanggung jawab moral terhadap bumi, tapi juga peluang ekonomi besar bagi generasi mendatang,” ujarnya dalam sesi wawancara terpisah.
Di sela kegiatan, Newsom terlihat berdialog dengan Gubernur Pará, Helder Barbalho, membahas peluang kerja sama lintas negara bagian dalam investasi hijau dan pertukaran teknologi energi bersih.
Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian tur diplomatiknya untuk memperkuat kolaborasi iklim dengan Baden-Württemberg, Jerman, yang telah lama menjadi mitra dalam koalisi iklim global Under2 Coalition.
Sindiran Terbuka untuk Trump
Dalam pidatonya, Newsom tidak menahan diri saat menyinggung keputusan Trump yang dua kali menarik Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris.
“Mundur dari perjanjian itu dua kali bukan hanya memalukan, tapi juga membuka peluang bagi negara lain untuk mengambil alih kepemimpinan dunia dalam energi bersih,” katanya menegaskan.
Trump selama ini dikenal mempromosikan kebijakan pro-industri minyak dan batu bara, serta sering meragukan bukti ilmiah terkait pemanasan global. Menurut Newsom, sikap seperti itu justru memperlambat inovasi dan membuat Amerika kehilangan daya saing dalam teknologi masa depan.
“Ketika negara lain berinvestasi besar dalam energi surya dan kendaraan listrik, kita justru sibuk mempertahankan masa lalu yang sudah usang,” tegasnya.
Pandangan Ahli Iklim
Menurut Champa Patel, Direktur Kebijakan di sebuah lembaga internasional yang fokus pada perubahan iklim, peran negara bagian seperti California kini menjadi sangat penting di tengah lemahnya komitmen pemerintah pusat.
“Negara bagian memiliki otonomi untuk tetap menerapkan kebijakan yang sejalan dengan semangat Perjanjian Paris, bahkan ketika kebijakan nasional mengambil arah berbeda,” jelas Patel.
Namun ia juga mengingatkan bahwa wilayah subnasional seperti California tidak memiliki hak suara langsung dalam negosiasi resmi COP, sehingga pengaruh mereka lebih bersifat moral dan simbolik.
Dukungan dari Delegasi Global
Pidato Newsom menuai sambutan positif dari beberapa delegasi yang hadir di Belem. Banyak yang menilai langkah California sebagai bukti bahwa komitmen terhadap lingkungan bisa tetap hidup, bahkan tanpa dukungan penuh dari pemerintahan pusat.
“Kepemimpinan seperti ini menunjukkan bahwa aksi iklim tidak harus menunggu instruksi dari atas. Perubahan bisa dimulai dari bawah,” ujar salah satu delegasi dari Eropa yang hadir dalam sesi panel.
Global dan Peluang bagi Asia Tenggara
Kritik Newsom mencerminkan pergeseran pola kepemimpinan dalam isu iklim global. Tidak lagi hanya negara yang memegang kendali, tetapi juga pemerintah daerah, kota, dan sektor swasta yang mulai mengambil peran penting.
Bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, hal ini membuka peluang besar untuk memperkuat kerja sama lintas daerah dalam investasi energi terbarukan, pertukaran teknologi hijau, serta komitmen pada pembangunan berkelanjutan.
Pidato Gavin Newsom di COP30 bukan sekadar sindiran politik, melainkan seruan global agar semua pemimpin nasional maupun lokal mengambil langkah nyata menghadapi krisis iklim.
Dengan semangat kolaborasi lintas wilayah, dunia diingatkan bahwa solusi atas krisis iklim tidak akan datang dari satu negara saja, melainkan dari aksi kolektif yang dimulai sekarang.
Untuk bacaan berita lengkap lainnya, kunjungi: JurnalLugas.Com






