Khaleda Zia Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun, Rival Abadi Sheikh Hasina

JurnalLugas.Com – Bangladesh berduka. Khaleda Zia, mantan perdana menteri sekaligus perempuan pertama yang memimpin negara tersebut, meninggal dunia pada Selasa, 30 Desember 2025, dalam usia 80 tahun. Kepergiannya menutup perjalanan politik panjang yang penuh dinamika, rivalitas keras, serta peran besar dalam membentuk wajah demokrasi Bangladesh modern.

Selama lebih dari tiga dekade, nama Khaleda Zia tak pernah lepas dari panggung politik nasional. Ia dikenal sebagai tokoh sentral Bangladesh Nationalist Party (BNP) dan pesaing abadi Sheikh Hasina dalam perebutan kekuasaan di negara Asia Selatan itu.

Bacaan Lainnya

Dari Kehidupan Privat ke Panggung Politik Nasional

Khaleda Zia lahir di Dinajpur pada 1945, ketika wilayah tersebut masih berada di bawah kekuasaan India Britania. Ia menikah di usia muda dengan Ziaur Rahman, perwira militer yang kemudian menjelma menjadi pahlawan kemerdekaan Bangladesh.

Perubahan besar dalam hidup Khaleda terjadi setelah suaminya, Presiden Ziaur Rahman, tewas dalam pembunuhan pada 1981. Peristiwa itu mendorongnya keluar dari kehidupan domestik menuju arena politik yang keras dan penuh risiko.

Pada 1982, Khaleda resmi bergabung dengan BNP dan dengan cepat dipercaya menduduki posisi strategis. Di tengah pemerintahan militer yang berkuasa hampir satu dekade, ia muncul sebagai simbol perlawanan sipil. Meski beberapa kali mengalami tekanan politik hingga tahanan rumah, posisinya sebagai tokoh oposisi justru semakin menguat.

Baca Juga  Imigrasi Dumai Tangkap 26 WNA Myanmar dan Bangladesh Hendak ke Malaysia Secara Ilegal

Dua Periode Menjadi Perdana Menteri

Runtuhnya rezim militer pada 1990 membuka jalan bagi pemilu demokratis. BNP keluar sebagai pemenang, dan pada 1991 Khaleda Zia dilantik sebagai perdana menteri. Sejarah pun tercipta: ia menjadi perempuan pertama yang memimpin Bangladesh dan salah satu pemimpin perempuan awal di negara mayoritas Muslim.

Pada periode pertamanya, Khaleda mengembalikan sistem parlementer serta memperkenalkan kebijakan pendidikan dasar gratis dan wajib. Namun, kekuasaannya terhenti pada 1996 setelah kalah dari Sheikh Hasina.

Khaleda kembali ke tampuk kekuasaan pada 2001 melalui koalisi besar, termasuk dengan partai-partai Islam. Kemenangan telak tersebut mengundang kritik, tetapi pemerintahannya juga mencatat kebijakan afirmatif bagi perempuan, seperti kuota parlemen dan perluasan akses pendidikan anak perempuan.

Kasus Hukum dan Kemunduran Politik

Usai lengser pada 2006, krisis politik melanda Bangladesh. Pemerintahan sementara yang didukung militer meluncurkan operasi antikorupsi besar-besaran. Khaleda Zia termasuk tokoh yang dijerat kasus hukum, bersama rival lamanya.

Pada 2018, ia dijatuhi hukuman penjara terkait kasus penggelapan dana perwalian. Khaleda membantah tuduhan tersebut dan menilai proses hukum sarat muatan politik. Kondisi kesehatannya yang terus menurun membuatnya kemudian menjalani tahanan rumah dengan alasan kemanusiaan.

Baca Juga  Mencekam 75 Orang Tewas Kerusuhan Bangladesh Berlakukan Jam Malam dan Kerahkan Militer

BNP sendiri mengalami kemerosotan signifikan, kalah dalam pemilu 2008 dan memboikot pemilu 2014, yang membuat partai itu kehilangan seluruh kursi parlemen.

Akhir Hidup dan Warisan Politik

Perubahan besar kembali terjadi pada 2024 ketika pemerintahan Sheikh Hasina tumbang akibat tekanan publik. Sejumlah vonis terhadap Khaleda Zia dicabut, dan ia diizinkan berobat ke London pada awal 2025.

Namun, kondisi kesehatannya terus memburuk akibat sirosis hati dan gangguan ginjal. Khaleda Zia akhirnya mengembuskan napas terakhir di Dhaka pada 30 Desember 2025.

Ia meninggalkan warisan politik yang besar sekaligus kontroversial. Putra sulungnya, Tarique Rahman, yang lama bermukim di London, kini kembali ke Bangladesh dan disebut-sebut sebagai figur kunci masa depan politik negara tersebut. Sementara itu, putra bungsunya, Arafat Rahman, telah wafat lebih dahulu pada 2015.

Kepergian Khaleda Zia menandai berakhirnya satu era politik Bangladesh era rivalitas sengit, perjuangan demokrasi, dan peran penting perempuan dalam kepemimpinan nasional.

Baca berita dan analisis politik internasional lainnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait