JurnalLugas.Com – Pemerintah Iran memastikan saluran komunikasi informal dengan Amerika Serikat masih berjalan, meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Pernyataan ini disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran di tengah eskalasi ketegangan politik dan gelombang protes nasional yang belum mereda.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin (12/1/2026) menegaskan bahwa komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk kawasan Timur Tengah tetap aktif. Menurutnya, pertukaran pesan dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.
Baghaei menjelaskan, absennya kedutaan Amerika Serikat di Teheran tidak menghalangi komunikasi tersebut. Kepentingan diplomatik AS di Iran hingga kini tetap diwakili oleh Kedutaan Besar Swiss. Ia menekankan bahwa mekanisme ini memungkinkan dialog tetap berlangsung di tengah situasi politik yang sensitif.
Pemerintah Klaim Situasi Terkendali
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa aparat keamanan masih memegang kendali penuh atas kondisi dalam negeri, meski demonstrasi telah berlangsung hampir dua pekan. Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang protes yang memicu ratusan korban jiwa.
Araghchi menyebut aksi unjuk rasa tersebut tidak lagi murni demonstrasi damai. Ia menuding adanya kelompok perusuh bersenjata yang menyerang aparat dan warga sipil serta merusak fasilitas umum dengan metode kekerasan ekstrem. Menurutnya, pemerintah memiliki bukti kuat keterlibatan pihak asing dalam apa yang ia sebut sebagai “perang teroris terselubung”.
Protes besar-besaran di Iran pecah sejak 28 Desember 2025, dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional secara drastis. Dalam perkembangannya, demonstrasi berubah menjadi tantangan politik paling serius bagi kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei sejak Revolusi Islam 1979.
Korban dan Penangkapan Terus Bertambah
Lembaga pemantau hak asasi manusia melaporkan bahwa lebih dari 540 orang tewas dan lebih dari 10.000 lainnya ditangkap selama aksi berlangsung di ratusan kota di seluruh Iran. Pembatasan akses internet dan komunikasi membuat proses verifikasi data di lapangan menjadi sulit.
Sementara itu dari Washington, Presiden AS Donald Trump mengakui pihaknya tengah mengkaji berbagai opsi menyusul laporan penindakan keras aparat Iran. Meski demikian, Trump juga mengungkapkan bahwa pihak Teheran telah menghubungi Washington untuk membuka peluang pembicaraan.
Trump menyatakan bahwa seluruh opsi, termasuk langkah-langkah tegas, sedang dipertimbangkan. Namun keputusan akhir masih dalam tahap evaluasi oleh pemerintah dan militer AS.
Iran Buka Peluang Dialog
Menanggapi hal tersebut, Abbas Araghchi menegaskan kesiapan Iran untuk kembali ke meja perundingan. Ia menyebut negosiasi hanya dapat dilakukan jika dilandasi rasa saling menghormati, kepentingan nasional, serta komitmen dialog yang serius dan nyata.
Pernyataan ini memberi sinyal bahwa di balik ketegangan politik dan krisis domestik, ruang diplomasi antara Teheran dan Washington masih belum sepenuhnya tertutup. Perkembangan selanjutnya diperkirakan akan sangat menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.
Baca berita internasional terpercaya lainnya di https://JurnalLugas.Com






