JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan bahwa pemerintahannya secara konsisten memilih pendekatan damai dalam menyikapi isu perbatasan dengan Indonesia. Menurut Anwar, Malaysia dan Indonesia merupakan negara sahabat yang harus saling menghormati kedaulatan masing-masing demi menjaga stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Anwar Ibrahim saat berdialog dengan mahasiswa Universitas Manajemen dan Teknologi Tunku Abdul Rahman (TAR UMT) di Kuala Lumpur, Rabu (4/2/2026). Dalam forum akademik tersebut, Anwar menekankan bahwa konflik bukanlah pilihan terbaik dalam menyelesaikan persoalan antarnegara bertetangga.
Ia menyebutkan, secara teoritis Malaysia bisa saja memilih jalur konfrontasi, namun langkah tersebut justru bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan prinsip hubungan internasional yang sehat. Pemerintah Malaysia, kata dia, lebih memilih mempertahankan hak dan wilayah negara melalui cara-cara bermartabat dan damai.
Anwar juga menegaskan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan harus bersifat timbal balik. Jika Malaysia menginginkan wilayah dan haknya dihormati oleh Indonesia, maka hal serupa juga wajib diberikan kepada Republik Indonesia sebagai mitra regional strategis.
Menurutnya, sikap saling menghargai inilah yang menjadi fondasi kehidupan bernegara di kawasan Asia Tenggara. Prinsip tersebut, lanjut Anwar, telah menjadi pedoman Malaysia dalam membangun relasi diplomatik dengan negara-negara tetangga hingga saat ini.
Dalam kesempatan yang sama, Anwar menyampaikan optimisme terhadap generasi muda Malaysia. Ia menilai masa depan bangsa tercermin dari semangat dan wajah para mahasiswa yang hadir dalam dialog tersebut. Anwar mendorong mahasiswa untuk berani memilih jalan terbaik, meskipun tidak selalu mudah atau populer.
Ia mengakui bahwa mengambil keputusan yang benar sering kali memunculkan risiko penolakan, kritik, bahkan kebencian. Namun, menurut Anwar, keberanian moral adalah kunci kepemimpinan yang berintegritas.
Anwar kemudian menyinggung dinamika politik di parlemen Malaysia yang terjadi pada pagi hari sebelum dialog berlangsung. Ia mengungkapkan adanya perdebatan keras terkait isu perbatasan Malaysia–Indonesia, khususnya di wilayah Sabah dan Sarawak. Dalam perdebatan tersebut, dirinya bahkan dituding berkhianat dan menjual kepentingan negara.
Menanggapi tudingan tersebut, Anwar menyayangkan rendahnya kualitas perdebatan yang tidak disertai pemahaman fakta yang utuh. Ia menilai sebagian kritik muncul tanpa kajian mendalam dan enggan mencari kebenaran secara objektif, sehingga diskursus publik menjadi emosional dan tidak produktif.
Di akhir pernyataannya, Anwar menyerukan pentingnya saling menghormati antar kelompok masyarakat. Ia menegaskan bahwa pada hakikatnya manusia memiliki nilai-nilai dasar, perasaan, serta kehendak untuk mewujudkan kebaikan bersama. Prinsip inilah yang menurutnya harus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca berita nasional dan internasional lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com






