Trump Kerahkan Kekuatan Militer Besar AS Jika Negosiasi Nuklir Iran Kandas

JurnalLugas.Com — Presiden Donald Trump menegaskan kesiapan Amerika Serikat untuk mengerahkan kekuatan militer dalam skala besar apabila negosiasi nuklir dengan Iran tidak membuahkan hasil. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Jumat, 13 Februari, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Trump mengungkapkan bahwa pengerahan kekuatan besar diperlukan sebagai langkah antisipatif apabila jalur diplomasi gagal. Namun, ia menambahkan bahwa kesepakatan tetap menjadi opsi terbaik karena dapat menghentikan eskalasi konflik dengan lebih cepat.

Bacaan Lainnya

“Jika kesepakatan tidak tercapai, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran,” ujar Trump singkat, menegaskan sikap keras Washington.

AS Kirim Kapal Induk Tambahan ke Timur Tengah

Pernyataan Trump muncul setelah laporan media menyebutkan bahwa AS akan mengirim kapal induk USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah. Kapal tersebut akan memperkuat kelompok tempur yang telah lebih dulu dipimpin oleh USS Abraham Lincoln, yang baru saja tiba di kawasan.

Baca Juga  Kuwait Hadapi Serangan Rudal dan Drone, Militer Langsung Aktifkan Sistem Pertahanan

Trump menyebut pengerahan tersebut sebagai bagian dari persiapan strategis militer AS. “Kami menyiapkannya. Sebuah kekuatan yang sangat besar,” katanya, menegaskan pesan tekanan kepada Teheran di tengah proses negosiasi.

Negosiasi Nuklir Dimediasi Oman

Amerika Serikat dan Iran diketahui menggelar pembicaraan tidak langsung di Muscat pada 6 Februari lalu dengan mediasi Oman. Pertemuan ini menandai dimulainya kembali dialog setelah penangguhan sekitar delapan bulan.

Sebelumnya, hubungan kedua negara memburuk usai Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran di tengah meningkatnya konflik regional Iran–Israel pada Juni 2025.

Pengayaan Uranium Jadi Titik Krusial

Isu utama yang menjadi ganjalan dalam negosiasi adalah pengayaan uranium. Washington menuntut Teheran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium serta memindahkan uranium berkadar tinggi ke luar negeri. Namun, tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Iran.

Selain itu, AS juga berupaya memasukkan program rudal Iran serta dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan ke dalam agenda perundingan. Iran secara konsisten menegaskan bahwa pembahasan hanya akan difokuskan pada program nuklir, tanpa melibatkan isu pertahanan dan geopolitik lainnya.

Baca Juga  Trump Ngambek Soal Tarif Selat Hormuz oleh Iran, Joint Venture Setuju

Tekanan Militer dan Diplomasi Berjalan Bersamaan

Di tengah proses diplomasi, peningkatan kehadiran militer AS dinilai sebagai bentuk tekanan strategis untuk memaksa Iran mencapai kesepakatan. Meski demikian, Trump tetap menyatakan optimisme bahwa negosiasi masih berpeluang berhasil.

Analis menilai situasi ini menjadi titik krusial bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Kegagalan diplomasi berpotensi memicu eskalasi militer yang lebih luas, sementara keberhasilan kesepakatan dapat membuka jalan bagi penurunan ketegangan jangka panjang.

Baca berita internasional dan analisis geopolitik terkini hanya di https://JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait