IRGC Hancurkan Pesawat E-3 Sentry AWACS AS di Arab Saudi, Drone MQ-9 Reaper Ikut Keok

JurnalLugas.Com — Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menghancurkan pesawat peringatan dini milik Amerika Serikat. Klaim tersebut disampaikan pada Minggu (29/3) melalui pernyataan resmi yang dirilis media internal mereka.

Dalam keterangannya, IRGC menyebut pesawat jenis E-3 Sentry yang dilengkapi sistem Airborne Warning and Control System (AWACS) menjadi target dalam operasi serangan rudal dan drone. Serangan itu dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang berada sekitar 96 kilometer tenggara Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

Bacaan Lainnya

IRGC mengungkapkan bahwa operasi tersebut dijalankan oleh Divisi Kedirgantaraan mereka sebagai bagian dari eskalasi konflik terbaru. Selain menghancurkan satu unit pesawat AWACS, beberapa pesawat lain yang berada di sekitar lokasi juga dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat serangan tersebut.

Baca Juga  Iran Pasokan BBM Tetap Aman di Tengah Ancaman Serangan AS-Israel, Harga Minyak Naik

“Operasi ini merupakan bagian dari respons strategis terhadap ancaman yang ada,” demikian pernyataan singkat yang dikutip dari sumber resmi IRGC.

Tidak hanya itu, dalam serangan yang terjadi pada Jumat (27/3), IRGC juga mengklaim telah merusak sejumlah pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara jenis KC-135, bahkan menghancurkan setidaknya satu unit di pangkalan yang sama.

Di sisi lain, sistem pertahanan udara Iran juga dilaporkan berhasil menembak jatuh drone pengintai milik Amerika Serikat jenis MQ-9 Reaper. Insiden tersebut terjadi di wilayah timur Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.

Dalam laporan lanjutan, pihak militer Iran menyebut bahwa sejak konflik berlangsung, mereka telah berhasil menjatuhkan sedikitnya 138 drone yang dianggap melanggar wilayah udara mereka.

Baca Juga  Trump Gagalkan Proposal Perdamaian Iran, Perang Meletus

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Amerika Serikat terkait klaim tersebut. Namun, perkembangan ini diperkirakan akan semakin memperkeruh situasi geopolitik di kawasan yang sudah lama menjadi titik panas konflik internasional.

Para pengamat menilai bahwa eskalasi serangan yang melibatkan aset strategis seperti AWACS dan drone canggih berpotensi memicu respons militer lanjutan, sekaligus meningkatkan risiko konflik terbuka yang lebih luas.

Untuk mengikuti perkembangan berita internasional terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait