Trump Klaim Iran Kirim 20 Kapal Minyak, Sinyal Damai atau Sensasi

JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran akan mengirimkan 20 kapal tanker minyak ke Amerika Serikat melalui Selat Hormuz mulai Senin, 30 Maret 2026 pagi waktu setempat.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Minggu (29/3), yang menyebut langkah Iran itu sebagai bentuk “penghormatan” dalam konteks negosiasi yang tengah berlangsung antara kedua negara.

Bacaan Lainnya

“Sebagai semacam tanda hormat, mereka akan mengirimkan 20 kapal besar berisi minyak yang melintasi Selat Hormuz mulai besok pagi,” ujar Trump dalam pernyataan singkatnya.

Negosiasi AS-Iran Disebut Makin Positif

Trump menilai perkembangan komunikasi antara Washington dan Teheran berjalan cukup baik. Ia bahkan menyebut peluang tercapainya kesepakatan semakin terbuka dalam waktu dekat.

“Kami berjalan sangat baik dalam negosiasi tersebut,” katanya singkat.

Meski demikian, Trump tetap membuka kemungkinan kegagalan. Ia menyebut dirinya “cukup yakin” kesepakatan bisa tercapai, namun tetap mengakui adanya risiko.

Baca Juga  Kapal Kribi CMA CGM Prancis Tembus Selat Hormuz di Tengah Konflik Iran

“Saya melihat adanya kesepakatan dengan Iran, tapi tentu saja ada kemungkinan juga tidak,” tambahnya.

Menurut Trump, proses negosiasi berlangsung melalui berbagai jalur, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Opsi Militer Masih Terbuka

Saat ditanya terkait kemungkinan pengerahan pasukan darat, Trump tidak memberikan jawaban tegas. Ia hanya menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki banyak opsi yang bisa diambil dalam menghadapi Iran.

Pernyataan ini menandakan bahwa meskipun diplomasi diutamakan, opsi militer belum sepenuhnya dikesampingkan.

Klaim Progres Lebih Cepat dari Jadwal

Trump juga mengklaim bahwa proses negosiasi dengan Iran berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

“Kami beberapa pekan lebih cepat dari jadwal. Kami menghadapi kelompok baru yang bertindak rasional,” ungkapnya.

Ia menilai bahwa pihak Iran yang kini bernegosiasi merupakan “rezim baru” dengan pendekatan berbeda dibanding sebelumnya.

Iran Sebelumnya Tolak Proposal AS

Di sisi lain, Iran sebelumnya menunjukkan sikap keras terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington. Pada Rabu (25/3), Teheran menolak rencana 15 poin dari AS untuk mengakhiri konflik.

Baca Juga  Blokade Selat Hormuz Dimulai, Trump Mumet, Dunia Cemas

Pihak Iran menegaskan bahwa gencatan senjata hanya akan dilakukan sesuai dengan syarat dan waktu yang mereka tentukan sendiri.

Penolakan ini sempat memunculkan keraguan terhadap arah negosiasi. Namun pernyataan terbaru Trump soal pengiriman minyak kini memicu spekulasi adanya kompromi baru di balik layar.

Jika benar terealisasi, pengiriman 20 kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz akan menjadi langkah besar yang berpotensi memengaruhi pasar energi global.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dunia yang sering menjadi titik panas konflik geopolitik.

Para analis menilai, sinyal positif dari hubungan AS-Iran ini bisa meredakan ketegangan global sekaligus menstabilkan harga energi, meskipun ketidakpastian masih membayangi.

Untuk update berita nasional dan internasional terbaru lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com

(PJ)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait