JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah pemerintah China secara terbuka mendesak penghentian operasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Seruan itu muncul di tengah ancaman eskalasi serangan yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump.
Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa pendekatan militer hanya akan memperburuk situasi.
“Langkah militer tidak menyentuh akar persoalan. Eskalasi hanya akan merugikan semua pihak,” ujarnya singkat, sembari menyerukan penghentian segera operasi tempur.
Tebar Ancaman Trump dan Bayang-bayang Eskalasi
Di sisi lain, Donald Trump justru mengisyaratkan peningkatan tekanan terhadap Iran. Dalam pidato terkait operasi militer yang disebut “Epic Fury”, ia mengklaim target strategis hampir tercapai.
Trump bahkan mengeluarkan pernyataan keras dengan menyebut Iran akan diserang lebih intens dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa opsi militer masih menjadi instrumen utama Washington dalam merespons konflik.
Meski demikian, Trump juga membuka kemungkinan jalur diplomasi, dengan menyebut komunikasi terbatas antara kedua negara masih berlangsung.
Diplomasi vs Realitas Lapangan
Pemerintah China menilai jalur dialog tetap menjadi satu-satunya solusi rasional untuk mencegah dampak yang lebih luas, terutama terhadap ekonomi global dan stabilitas energi.
Menurut Mao Ning, gangguan di Selat Hormuz tidak bisa dilepaskan dari operasi militer yang terus berlangsung.
Ia menegaskan, stabilitas kawasan Teluk menjadi kunci bagi kelancaran jalur perdagangan internasional, terutama distribusi energi dunia.
“Pemulihan keamanan di kawasan adalah prasyarat utama agar jalur pelayaran global kembali normal,” tegasnya.
Iran Bantah Tekanan Gencatan Senjata
Sementara itu, pihak Iran melalui juru bicara kementerian luar negeri, Esmaeil Baghaei, membantah adanya permintaan gencatan senjata kepada Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi bukanlah negosiasi formal, melainkan sekadar pertukaran pesan terbatas melalui jalur diplomatik tidak langsung.
Korban dan Krisis Energi Merebak
Sejak pecahnya eskalasi pada akhir Februari, konflik telah menelan korban besar. Lebih dari seribu korban jiwa dilaporkan, termasuk tokoh penting Iran, Ali Khamenei.
Serangan balasan dari Iran melalui drone dan rudal juga memperluas area konflik hingga menyentuh negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Di sisi lain, kerugian militer juga dialami Amerika Serikat, dengan puluhan korban tewas dan ratusan lainnya terluka.
Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai titik krusial yang dipantau dunia. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi dan instabilitas ekonomi internasional.
Dunia Menanti Deeskalasi Konkret
Ketegangan yang terus meningkat membuat komunitas internasional berada dalam posisi siaga. Seruan deeskalasi semakin menguat, namun realitas di lapangan menunjukkan dinamika yang masih jauh dari kata mereda.
Jika jalur diplomasi gagal, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis regional dengan dampak global yang lebih luas terutama pada sektor energi dan perdagangan internasional.
Baca berita internasional lainnya di JurnalLugas.Com
(HD)






