JurnalLugas.Com — Israel disebut menaruh kekhawatiran bahwa Amerika Serikat (AS) bisa mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran, namun kemudian pihak luar dapat campur tangan untuk menggagalkannya. Pernyataan ini disampaikan oleh mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS, Joe Kent.
Kent menekankan bahwa kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir sebenarnya cukup besar. Ia menilai, Israel aktif menyoroti bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir dan rudal jarak jauh, sehingga menuntut respons cepat dari AS.
“Saat itu, negosiasi berjalan lancar. Mereka benar-benar membicarakan pengayaan uranium dan opsi teknis lainnya,” kata Kent.
Selain itu, Kent menilai tindakan Iran relatif terkendali. Saat mengeksekusi Operasi Midnight Hammer pada Juni, Iran meluncurkan rudal dengan jumlah yang sebanding dengan serangan AS sebelumnya, yang menurut Kent menunjukkan kesediaan Teheran untuk terus berunding.
Kent sendiri memilih mundur dari jabatannya sebagai kepala kontraterorisme di era Presiden Donald Trump, karena berbeda pandangan terkait operasi militer AS terhadap Iran. Ia menilai Washington ikut terjebak konflik akibat informasi yang disebarkan oleh pejabat senior Israel.
Insiden terbaru pada 28 Februari memperlihatkan ketegangan meningkat, ketika AS dan Israel menyerang beberapa lokasi di Iran, termasuk di Teheran, menimbulkan korban dan kerusakan sipil. Iran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS dan wilayah Israel di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.
Awalnya, AS dan Israel menyebut operasi militer itu untuk menghadapi ancaman program nuklir Iran, namun kemudian muncul penegasan bahwa tujuan strategisnya juga untuk memicu perubahan politik di Teheran.
Baca berita lainnya, JurnalLugas.Com
(SF)






