JurnalLugas.Com — Pemerintah memastikan kondisi pasokan energi domestik, khususnya gas minyak cair atau Liquefied Petroleum Gas (LPG), berada dalam keadaan aman dan terkendali. Ketersediaan cadangan disebut telah melampaui ambang ketahanan minimal, sehingga kebutuhan masyarakat dinilai dapat terpenuhi tanpa gangguan berarti dalam waktu dekat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa periode krisis pasokan LPG telah berhasil dilewati. Menurutnya, langkah antisipatif yang dilakukan pemerintah bersama pelaku usaha telah menjaga stabilitas distribusi energi tersebut.
“Masa sulit LPG sudah kita lewati, dan saat ini cadangan kita berada di atas 10 hari,” ujarnya usai mengikuti agenda bersama Presiden di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Pasokan Diversifikasi dari Berbagai Negara
Untuk menjaga ketahanan energi, Indonesia diketahui tidak bergantung pada satu sumber impor saja. Pemerintah telah mengamankan suplai LPG dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, hingga sejumlah negara lain.
Bahlil menegaskan bahwa distribusi pasokan tersebut juga membuat ketahanan energi nasional relatif lebih kuat, termasuk di tengah potensi gangguan geopolitik global yang dapat mempengaruhi jalur perdagangan internasional.
Ia menjelaskan, porsi impor LPG Indonesia saat ini didominasi oleh Amerika Serikat dengan kisaran 70–75 persen, disusul negara-negara di kawasan Timur Tengah sekitar 20 persen, serta sisanya dari berbagai negara lain.
Stabilitas Energi di Tengah Dinamika Global
Pemerintah juga menyoroti kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sempat menjadi perhatian terkait jalur distribusi energi dunia. Namun, Bahlil memastikan bahwa kondisi tersebut tidak berdampak langsung terhadap pasokan LPG nasional.
Diversifikasi sumber impor disebut menjadi salah satu strategi kunci dalam menjaga stabilitas energi, sehingga gangguan di satu wilayah tidak serta-merta mengganggu kebutuhan domestik.
Penyesuaian Harga BBM Masih Dikaji
Selain LPG, pemerintah juga tengah melakukan kajian terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 92, RON 95, RON 98, hingga solar berkualitas tinggi seperti Pertamina Dex.
Bahlil menyampaikan bahwa proses perhitungan masih berlangsung dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Pertamina dan pelaku usaha lainnya.
“Saat ini masih dalam tahap perhitungan. Kita berharap harga minyak dunia atau ICP bisa turun agar hasilnya lebih baik bagi masyarakat,” jelasnya.
Penyesuaian harga ini disebut akan mempertimbangkan kondisi harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP), sehingga keputusan yang diambil dapat mencerminkan keseimbangan antara kepentingan industri dan daya beli masyarakat.
Komunikasi Diplomatik Terkait Jalur Selat Hormuz
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menyinggung situasi dua kapal milik Pertamina yang belum dapat melintasi Selat Hormuz akibat kondisi keamanan di wilayah tersebut.
Pemerintah terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk mencari solusi terbaik, termasuk menunggu meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Kita berharap dalam jeda dua minggu ke depan, situasi dapat membaik sehingga persoalan ini bisa segera terselesaikan,” katanya.
Fokus pada Ketahanan Energi Nasional
Pernyataan pemerintah ini menegaskan komitmen untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah tantangan global. Dengan cadangan yang mencukupi serta strategi diversifikasi pasokan, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas energi untuk kebutuhan masyarakat dan sektor industri.
Kebijakan yang tengah dirumuskan juga menunjukkan upaya pemerintah dalam menyeimbangkan stabilitas harga, ketersediaan energi, serta kondisi pasar global.
Berita lainnya JurnalLugas.Com
(ED)






