70% Warga Amerika Ketakutan, Survei Ungkap Panik Massal Perang AS vs Iran

JurnalLugas.Com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan tajam publik internasional setelah hasil survei terbaru menunjukkan meningkatnya kecemasan masyarakat Amerika terhadap arah kebijakan luar negeri negaranya.

Survei yang dilakukan oleh YouGov bersama CBS News dan dirilis pada 12 April 2026 mengungkap bahwa hampir tujuh dari sepuluh warga AS menyatakan rasa khawatir terhadap eskalasi konflik yang terus berkembang antara Washington dan Teheran.

Bacaan Lainnya

Dalam temuan tersebut, sekitar 68 persen responden mengaku menggambarkan situasi saat ini dengan kata “khawatir”. Selain itu, lebih dari separuh peserta survei juga menyatakan kondisi emosional yang berat, dengan 57 persen merasa tertekan dan 54 persen mengaku marah atas perkembangan konflik yang terjadi.

Mayoritas Nilai Situasi Semakin Buruk

Tidak hanya soal emosi publik, survei tersebut juga memperlihatkan penilaian negatif terhadap arah konflik. Sekitar 59 persen responden menilai situasi hubungan AS–Iran saat ini berada dalam kondisi “buruk” hingga “sangat buruk” bagi kepentingan Amerika Serikat. Angka ini tercatat mengalami peningkatan dibanding survei sebelumnya pada 22 Maret.

Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran persepsi publik yang semakin pesimis terhadap kemampuan pemerintah dalam mengendalikan dinamika konflik di Timur Tengah.

Baca Juga  Trump Merajuk Tak Diizinkan Gunakan Pangkalan Militer Spanyol, Ancam Setop Kerja Sama Dagang

Kritik terhadap Kebijakan Pemerintah

Sorotan juga tertuju pada kepemimpinan politik di Washington. Sekitar 62 persen responden menilai bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak memiliki arah kebijakan yang jelas terkait konflik dengan Iran. Bahkan, 66 persen lainnya menyatakan bahwa pemerintah belum mampu menjelaskan secara transparan tujuan dari keterlibatan militer AS dalam ketegangan tersebut.

Pandangan negatif ini turut diperkuat dengan penilaian terhadap kinerja keseluruhan pemerintahan. Sebanyak 64 persen responden menyatakan tidak menyetujui cara Trump menangani situasi dengan Iran, sementara 61 persen memberikan evaluasi buruk terhadap kinerja kepemimpinannya secara umum.

Pernyataan Kontroversial Picu Reaksi Negatif

Salah satu faktor yang memperburuk persepsi publik adalah pernyataan keras Trump di platform Truth Social pada 7 April, yang menyebut ancaman untuk “menghancurkan peradaban Iran”. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari masyarakat Amerika sendiri.

Dalam survei yang sama, 59 persen responden menilai pernyataan tersebut secara negatif, dengan 47 persen di antaranya menyatakan sangat tidak menyukai komentar tersebut. Hal ini memperlihatkan adanya ketegangan antara retorika politik dan sensitivitas publik terhadap isu konflik bersenjata.

Latar Konflik yang Terus Memanas

Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban sipil dan memperburuk situasi keamanan regional.

Baca Juga  Potensi Perang Dunia III, China Komunikasi Rusia terkait Serangan Militer AS-Israel ke Iran

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Aksi saling serang ini memperluas kekhawatiran akan potensi konflik berkepanjangan yang melibatkan banyak negara di kawasan tersebut.

Pada perkembangan terbaru, Trump sempat mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu dengan Iran. Namun, situasi di lapangan masih dinilai rapuh dan berpotensi kembali memanas sewaktu-waktu.

Opini Publik Jadi Sinyal Politik

Hasil survei YouGov–CBS ini memperlihatkan bahwa opini publik Amerika Serikat mulai menjadi tekanan tersendiri bagi pemerintah dalam mengelola kebijakan luar negeri. Tingginya tingkat kekhawatiran, disertai penurunan tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan, menjadi indikator penting bahwa isu Iran bukan hanya persoalan geopolitik, tetapi juga krisis persepsi di dalam negeri.

Dengan kondisi yang masih fluktuatif, perhatian publik kini tertuju pada langkah lanjutan Gedung Putih dalam merespons eskalasi konflik tersebut, sekaligus menjaga stabilitas politik dan keamanan global.

Baca berita lainnya di: https://JurnalLugas.Com

(KD)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait