JurnalLugas.Com — Keputusan PT Bank OCBC NISP Tbk untuk membagikan dividen tahun buku 2025 justru memicu respons negatif dari pasar, meskipun kinerja keuangan perseroan menunjukkan pertumbuhan.
Bank berkode saham NISP itu menetapkan total dividen tunai sebesar Rp1,03 triliun, atau setara 20 persen dari laba bersih yang mencapai Rp5,06 triliun. Secara nominal, angka ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga konsistensi distribusi keuntungan kepada pemegang saham.
Namun, jika dilihat lebih dalam, nilai dividen per saham justru mengalami penurunan signifikan menjadi Rp45 per saham turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama Parwati Surjaudaja menyampaikan bahwa keputusan tersebut telah disepakati dalam rapat umum pemegang saham. Ia menegaskan alokasi laba dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan ekspansi bisnis ke depan.
“Sebagian laba dibagikan sebagai dividen tunai, sementara sisanya ditahan untuk memperkuat struktur permodalan,” ujarnya singkat.
Laba Tumbuh, Dividen Menyusut
Sepanjang 2025, OCBC NISP mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 3,09 persen secara tahunan, dari Rp4,86 triliun menjadi Rp5,06 triliun. Kinerja ini didorong oleh peningkatan pendapatan bunga yang relatif stabil.
Meski demikian, penurunan dividen per saham menjadi sorotan utama. Dalam empat tahun terakhir, tren dividen perusahaan justru terus meningkat:
- 2021: Rp22 per saham
- 2022: Rp58 per saham
- 2023: Rp72 per saham
- 2024: Rp106 per saham
Penurunan ke Rp45 per saham pada 2025 menjadi anomali yang mengejutkan pelaku pasar, terutama di tengah ekspektasi kenaikan lanjutan.
Sentimen Pasar Berbalik Negatif
Reaksi investor terhadap kebijakan ini terlihat jelas di pasar. Dalam sepekan terakhir, harga saham NISP terkoreksi hingga 8,4 persen dan parkir di level Rp1.365.
Selain itu, tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) juga ikut tergerus menjadi sekitar 3,3 persen, membuat saham ini terlihat kurang menarik dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar tidak hanya melihat besaran total dividen, tetapi juga konsistensi pertumbuhan nilai per saham sebagai indikator utama daya tarik investasi.
Strategi Tahan Laba Jadi Fokus
Sebanyak 80 persen laba bersih diputuskan sebagai laba ditahan, sementara Rp1 miliar dialokasikan untuk cadangan umum. Langkah ini memberi sinyal bahwa manajemen tengah memprioritaskan penguatan fundamental jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian global dan dinamika suku bunga, strategi konservatif seperti ini kerap diambil oleh perbankan untuk menjaga likuiditas dan kesiapan ekspansi.
Namun demikian, keputusan tersebut tetap membawa konsekuensi terhadap persepsi investor dalam jangka pendek.
Jadwal Lengkap Pembagian Dividen
Berikut agenda resmi pembagian dividen tunai OCBC NISP:
- Cum Dividen Pasar Reguler & Negosiasi: 17 April 2026
- Ex Dividen Pasar Reguler & Negosiasi: 20 April 2026
- Cum Dividen Pasar Tunai: 21 April 2026
- Ex Dividen Pasar Tunai: 22 April 2026
- Pembayaran Dividen: 4 Mei 2026
Pelaku pasar akan mencermati apakah strategi penahanan laba ini mampu mendorong pertumbuhan yang lebih agresif, atau justru menekan daya tarik saham dalam jangka menengah.
Untuk analisis ekonomi dan pasar terbaru lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com
(ED)






