JurnalLugas.Com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran baru di sektor konsumsi. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga sejumlah produk kebutuhan sehari-hari yang masih bergantung pada bahan baku maupun komponen impor.
Tekanan kurs yang semakin tinggi tidak hanya berdampak pada pelaku industri manufaktur, tetapi juga merembet ke sektor ritel modern. Produk-produk berbasis susu, kedelai, hingga bahan pangan tertentu diperkirakan menjadi kelompok yang paling rentan mengalami penyesuaian harga dalam beberapa waktu ke depan.
Finance Director PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), Suantopo Po, mengakui bahwa lonjakan nilai dolar memberikan tekanan terhadap biaya produksi berbagai barang konsumsi. Menurutnya, ketika bahan baku impor menjadi lebih mahal, produsen pada akhirnya akan menyesuaikan harga jual untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
“Dengan kurs dolar yang berada di level tinggi, produk yang memiliki ketergantungan pada bahan impor tentu menghadapi kenaikan biaya. Dampaknya bisa berlanjut pada harga yang dibayar konsumen,” ujarnya dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan di Tangerang, Kamis (4/6/2026).
Produk Berbasis Impor Jadi yang Paling Rentan
Sejumlah komoditas yang masih mengandalkan pasokan dari luar negeri diperkirakan akan merasakan dampak paling besar. Bahan baku seperti susu, kedelai, dan kacang hijau merupakan contoh komoditas yang selama ini memiliki keterkaitan dengan pasar global.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku otomatis meningkat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga produk olahan yang beredar di pasar, mulai dari makanan, minuman, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.
Pengamat ekonomi menilai tekanan kurs menjadi tantangan tersendiri bagi industri pangan nasional karena sebagian kebutuhan bahan baku strategis masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Harga Ritel Akan Mengikuti Kebijakan Produsen
Sebagai perusahaan ritel, Alfamidi menegaskan bahwa penyesuaian harga pada dasarnya mengikuti kebijakan pemasok atau produsen. Jika terjadi kenaikan harga dari prinsipal akibat meningkatnya biaya produksi, maka harga di tingkat toko juga akan mengalami penyesuaian.
Suantopo menjelaskan bahwa peritel berada pada posisi akhir dalam rantai distribusi sehingga perubahan harga dari pemasok akan langsung memengaruhi harga yang diterima konsumen.
“Ketika pemasok menaikkan harga karena biaya produksi meningkat, maka sektor ritel akan mengikuti penyesuaian tersebut,” katanya.
Meski demikian, perusahaan memastikan akan terus memantau perkembangan pasar dan berupaya menjaga daya beli konsumen melalui berbagai program promosi yang tersedia.
Industri Ritel Dinilai Tetap Tangguh
Di tengah tekanan kurs dan ketidakpastian ekonomi global, sektor ritel kebutuhan pokok dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat. Permintaan terhadap produk kebutuhan sehari-hari cenderung stabil karena merupakan kebutuhan dasar masyarakat.
Suantopo menyebut industri ritel telah membuktikan ketahanannya dalam berbagai periode krisis, termasuk saat pandemi Covid-19 yang sempat menekan aktivitas ekonomi nasional.
Menurutnya, fundamental bisnis perusahaan tetap berada dalam kondisi sehat dan memiliki ruang pertumbuhan hingga akhir tahun. Optimisme tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat yang masih menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dengan kondisi rupiah yang terus menjadi perhatian pelaku usaha, perkembangan nilai tukar dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga berbagai produk konsumsi di pasar domestik.
Baca berita ekonomi, bisnis, dan investasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com/
(Hans)






