JurnalLugas.Com — Pasar komoditas global kembali bergerak fluktuatif pada awal pekan ini setelah harga emas dunia tercatat melemah ke titik terendah dalam sepekan. Tekanan utama datang dari penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada perdagangan Senin (20/4/2026), harga emas spot sempat turun sekitar 0,24 persen dan bergerak di kisaran USD 4.820,11 per troy ons. Level tersebut menjadi yang terendah sejak 13 April, menandakan adanya aksi ambil untung serta pergeseran minat investor ke aset berbasis dolar.
Dolar Menguat, Emas Kehilangan Momentum
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Indeks dolar sempat menyentuh level tertinggi dalam satu pekan sebelum akhirnya terkoreksi tipis. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu ketidakpastian arah kebijakan global.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan. Situasi ini membuat biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi semakin tinggi, sehingga mengurangi daya tarik logam mulia tersebut di mata investor.
Ketegangan AS–Iran Picu Lonjakan Harga Minyak
Pasar energi turut merespons cepat perkembangan geopolitik tersebut. Harga minyak dunia tercatat melonjak sekitar 5 persen setelah muncul kekhawatiran bahwa proses deeskalasi antara AS dan Iran berpotensi gagal menyusul insiden pengambilalihan kapal kargo.
Ketegangan ini juga berdampak pada jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz, yang dilaporkan mengalami gangguan arus pengiriman. Kondisi tersebut memperkuat sentimen risiko di pasar global dan turut mempengaruhi pergerakan aset safe haven seperti emas.
Analis, Sentimen Harian Tekan Emas
Analis pasar dari City Index dan FOREX, Fawad Razaqzada, menilai dinamika geopolitik saat ini justru menciptakan tekanan jangka pendek bagi emas.
Ia menekankan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, yang pada akhirnya menekan harga emas lebih lanjut. Dalam pandangannya, arah pasar emas saat ini masih cenderung negatif selama sentimen risiko tetap didominasi penguatan dolar.
Sementara itu, analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebut bahwa pelaku pasar saat ini lebih sensitif terhadap faktor harian seperti pergerakan dolar dan obligasi. Menurutnya, kondisi ini membuat harga emas sulit menguat secara konsisten dalam jangka pendek.
Tekanan Jangka Pendek, Prospek Jangka Panjang Tetap Terbuka
Secara teknikal, emas masih menghadapi resistensi kuat di level psikologis USD 5.000 untuk kontrak bulan Juni. Penembusan level ini dinilai menjadi kunci bagi potensi reli lanjutan.
Namun dalam jangka pendek, tekanan dari suku bunga tinggi global serta inflasi yang dipengaruhi konflik geopolitik diperkirakan masih akan membayangi pergerakan emas. Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi.
Logam Mulia Lain Ikut Melemah
Tidak hanya emas, sejumlah logam mulia lain juga mengalami tekanan. Perak spot tercatat turun 1,3 persen ke level USD 79,76 per ons. Platinum melemah 1,4 persen menjadi USD 2.073,28, sementara paladium turun tipis 0,2 persen ke USD 1.556,00, meskipun sempat menyentuh level terendah dalam sepekan.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga merata di seluruh pasar logam mulia akibat sentimen global yang masih belum stabil.
Perkembangan harga emas dan komoditas global dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor pun kini menanti kepastian lebih lanjut dari kedua faktor tersebut sebelum mengambil posisi besar di pasar.
Sumber referensi dan pembaruan berita:
https://JurnalLugas.Com
(ED)






